Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Cerah Berawan pada Hari Ini
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Cerah Berawan pada Hari Ini
2
‎Sampah Jakarta Berkurang 500 Ton per Hari, DKI-Bekasi Perkuat Kerja Sama Bantargebang
Metropolitan
10 jam yang lalu
‎Sampah Jakarta Berkurang 500 Ton per Hari, DKI-Bekasi Perkuat Kerja Sama Bantargebang
3
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
MPR RI
8 jam yang lalu
Mulyanto: Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat
4
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
Nasional
7 jam yang lalu
Usman Husin Soroti Tarif Ferry Kupang-Rote, Khawatir Harga Sembako Ikut Naik
5
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
7 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
6
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Sepakbola
7 jam yang lalu
Achsanul Qosasi Minta Suporter Madura United dan Bonek Tak Terprovokasi Medsos
Home  /  Berita  /  Basket

Bantah Klaim Mansour Abbas, Perdana Menteri Israel Tolak Rekonsiliasi Damai

Bantah Klaim Mansour Abbas, Perdana Menteri Israel Tolak Rekonsiliasi Damai
PM Israel Benjamin Netanyahu. (Anadolu Agency)
Minggu, 23 Agustus 2026 13:02 WIB

JAKARTA - Konstelasi politik internal Israel kian dinamis menjelang pemilihan umum parlemen. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kembali menyatakan penolakan mutlak terhadap berdirinya negara Palestina, baik di wilayah Gaza maupun Tepi Barat.

Penolakan ini merupakan reaksi atas pernyataan Ketua United Arab List, Mansour Abbas yang menyuarakan bahwa entitas Palestina telah mendapatkan pengakuan global.

Bantahan Tegas Petahana

Menanggapi desakan tersebut, Netanyahu memastikan arah kebijakan pemerintahannya tidak akan berubah. Baginya, kedaulatan di wilayah yang disengketakan tetap berada di bawah kendali Israel.

"Selama saya masih menjabat sebagai perdana menteri, tidak akan ada negara Palestina yang dikendalikan Iran, baik di Gaza maupun di Yudea dan Samaria," paparnya, Sabtu (22/8/2026).

Sebelumnya, saat berpidato di konferensi umum partai di Kota Tayibe, Abbas mendorong terwujudnya rekonsiliasi damai secara menyeluruh. Ia secara khusus meminta keterlibatan AS dan Israel dalam proses pengakuan kedaulatan tersebut.

"Negara Palestina sudah ada, dan dunia mengakuinya," tukasnya.

Tantangan Elektabilitas Koalisi

Narasi tegas yang dibangun Netanyahu diyakini tidak lepas dari tekanan politik menjelang pemilu (27/10/2026). Laporan jajak pendapat Channel 13 yang dipublikasikan (19/8/2026) memperlihatkan tren penurunan dukungan bagi kubu pemerintah.

Koalisi partai sayap kanan dan ultra-Ortodoks diproyeksikan hanya mampu meraih 51 kursi, tertinggal 10 kursi dari syarat mayoritas parlemen. Lebih jauh, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan turun drastis menjadi kisaran 20 kursi dari sebelumnya 32 kursi. Tekanan elektabilitas ini menempatkan arah kebijakan perang dan pembentukan negara Palestina di bawah sorotan tajam. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Basket
wwwwww