Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
14 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
7 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
8 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
7 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
8 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Basket

Satelit Aqua Pantau Titik Panas, Kabut Asap Karhutla Tutup Wilayah RI

Satelit Aqua Pantau Titik Panas, Kabut Asap Karhutla Tutup Wilayah RI
Citra satelit Aqua MODIS menunjukkan kabut asap dan hotspot di Indonesia-Malaysia, 1 September 2026. (Foto: Dok NASA Earth)
Jum'at, 04 September 2026 12:30 WIB

WASHINGTON DC - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat melalui Earth Observatory merilis citra satelit Aqua tanggal 1 September 2026 yang menunjukkan kabut asap tebal menutupi sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia. Instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer pada satelit tersebut mendeteksi sejumlah anomali termal yang ditandai titik merah sebagai indikasi kebakaran aktif.

Citra satelit itu diunggah NASA Earth pada Kamis, 3 September waktu setempat. Menurut lembaga tersebut, Indonesia sedang mengalami kekeringan parah dan meluas. Sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut tropis yang membara secara perlahan di permukaan maupun di bawah tanah.

Kebakaran gambut ini dikenal sulit dipadamkan dan menghasilkan polusi udara lebih tinggi dibandingkan kebakaran hutan biasa, termasuk partikel halus, sulfur dioksida, serta gas rumah kaca. Kondisi kekeringan diperburuk oleh pengaruh El Niño yang sedang menguat, mirip dengan kejadian besar pada 2015.

"Kebakaran di permukaan kurang mengkhawatirkan, tapi ketika api sudah masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti. Api akan terus membara sampai hujan datang pada Oktober atau November," jelas peneliti Columbia University, Robert Field.

Pihak lembaga mencatat bahwa aktivitas kebakaran mulai meningkat tajam meski musim kebakaran baru berlangsung sekitar satu bulan. Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Kehutanan juga memanfaatkan data MODIS dan VIIRS dari NASA-NOAA untuk memantau titik panas secara langsung melalui aplikasi SiPongi.

"Tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi langkah-langkah yang sudah diterapkan setelah kejadian 2015," ungkap peneliti University of Maryland, Shi Jun Wee.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Basket, DKI Jakarta
wwwwww