Lapas Tangerang Bekali Warga Binaan Kembali ke Masyarakarat
![]() |
| Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Lapas Kelas I Tangerang. (Ist) |
Penulis: Azhari Nasution
Kegiatan diawali penampilan hadroh dan tilawah Al-Qur'an oleh Santri At-Tawabin. Kepala Lapas Kelas I Tangerang Beni Hidayat memberi sambutan dan tausiah dari Ustaz Muhammad Hafiz Salim, S.E.I., M.Pd.I.
Tausiah dikemas dengan bahasa yang ringan dan diselingi humor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gelak tawa sesekali terdengar dari jamaah, termasuk warga binaan yang mengikuti kegiatan.
Namun, di balik suasana santai tersebut, pesan yang disampaikan justru menyentuh sisi paling mendasar dalam proses pembinaan, yakni kesadaran untuk memperbaiki diri.
Beni mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Menurut dia, keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi inspirasi bagi siapa pun untuk membangun karakter dan memperbaiki perilaku.
“Maulid Nabi bukan sekadar mengingat kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar dari akhlak dan keteladanan beliau. Kesabaran, kejujuran, kepedulian, dan kemauan untuk memperbaiki diri merupakan nilai yang relevan bagi siapa pun,” ujar Beni dalam siaran pers, Sabtu (5/9/2026).
Ia berharap warga binaan dapat menjadikan masa menjalani pidana sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi dan mempersiapkan diri sebelum kembali kepada keluarga serta lingkungan masyarakat.
Beni menilai perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kemauan untuk memperbaiki kebiasaan, meningkatkan ibadah, dan belajar mengendalikan diri merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut.
Dalam tausiahnya, Hafiz mengajak jamaah melihat kembali berbagai nikmat yang sering kali luput disyukuri. Dengan gaya komunikasi yang santai, pesan keagamaan disampaikan melalui contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hafiz mengingatkan bahwa manusia kerap lebih sibuk memikirkan sesuatu yang belum dimiliki dibandingkan mensyukuri apa yang masih berada dalam genggaman.
“Kita masih diberi kesehatan, umur panjang, kesempatan beribadah, dan yang paling utama adalah nikmat iman. Karena itu, perbanyak zikir dan jadikan mengingat Allah sebagai bagian dari kehidupan,” tuturnya.
Menurut Hafiz, zikir tidak hanya berkaitan dengan ucapan, tetapi juga harus tercermin melalui hati dan perilaku. Nilai tersebut dinilai penting dalam kehidupan warga binaan karena proses memperbaiki diri membutuhkan ketenangan, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan emosi.
Kepala Bidang Pembinaan Narapidana Dwi Fu'ad Jamali mengatakan kegiatan keagamaan menjadi salah satu bagian dari proses pembinaan kepribadian warga binaan.
Menurut dia, perubahan membutuhkan proses panjang dan tidak dapat diukur hanya dari keikutsertaan seseorang dalam satu kegiatan. “Pembinaan itu sebuah proses. Perubahan tidak terjadi hanya karena seseorang mengikuti satu kegiatan, tetapi dari bagaimana nilai yang diperoleh kemudian diterapkan dalam keseharian,” kata Dwi.
Ia mengatakan perubahan dapat terlihat dari kebiasaan sederhana, seperti semakin tekun beribadah, mampu mengendalikan emosi, bersyukur, dan mempertimbangkan tindakan sebelum mengambil keputusan.
Hal-hal kecil tersebut, kata dia, perlu terus dipelihara agar berkembang menjadi karakter yang lebih baik. Pesan Maulid Nabi rupanya meninggalkan kesan mendalam bagi salah seorang warga binaan berinisial Ri.
Selama menjalani masa pidana, keinginan untuk kembali berkumpul bersama keluarga tentu menjadi salah satu harapan yang terus dinanti. Namun, kegiatan tersebut membuatnya melihat kepulangan dari sudut pandang berbeda.
“Selama menjalani masa pidana, tentu saya sering berpikir kapan bisa pulang. Tapi dari tausiah tadi saya sadar, yang penting bukan hanya kapan saya pulang, melainkan bagaimana saya pulang nanti,” ujar Ri.
Ia mengatakan ingin kembali kepada keluarga dengan membawa perubahan. “Saya ingin keluarga melihat bahwa saya sudah berubah. Selama masih diberi kesehatan, berarti saya masih punya kesempatan untuk lebih bersyukur dan memperbaiki diri,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan di dalam Lapas bukan hanya berbicara mengenai masa menjalani pidana, tetapi juga tentang persiapan seseorang ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Bagi warga binaan, kesempatan itu dapat dimulai dari ruang sederhana memperbaiki ibadah, belajar bersabar, mengendalikan emosi, memperbanyak syukur, dan menumbuhkan kembali harapan.
Keteladanan Rasulullah SAW menjadi inspirasi, sementara proses pembinaan menjadi jalan untuk menerjemahkan nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, ketika waktunya kembali tiba untuk meninggalkan Lapas, yang dibawa bukan sekadar status sebagai orang yang telah selesai menjalani pidana, melainkan tekad untuk pulang sebagai pribadi yang lebih matang, bertanggung jawab, dan siap membuka lembaran kehidupan baru. ***













