Legislator DPRD DKI Minta Jakpro Jadikan TIM Rumah bagi Seniman Lokal Jakarta
![]() |
| Legislator Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina. |
Rabu, 09 September 2026 15:45 WIB
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
Penulis: Muhammad Rifandi Fahrezi
JAKARTA- Legislator Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, menyambut positif keberlanjutan pengelolaan Taman Ismail Marzuki (TIM) oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) hingga 2026.
Namun, ia meminta pengelolaan TIM tidak sekadar mengejar kuantitas kegiatan, melainkan memastikan kawasan tersebut benar-benar menjadi ruang publik yang inklusif bagi masyarakat, khususnya pelaku seni lokal.
Hal itu disampaikan Wa Ode di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (9/9/2026). Menurut dia, keberlanjutan pengelolaan TIM menunjukkan kepercayaan diri Jakpro dalam mengelola kawasan pusat kesenian tersebut.
"Saya senang ya, artinya Jakpro percaya diri bahwa bisa sampai 2026. Artinya pengelolaan PT Jakarta Propertindo terhadap TIM itu cukup baik," kata Wa Ode.
Meski demikian, dia mengatakan masih terdapat sejumlah catatan yang perlu diperhatikan Jakpro. Salah satunya memastikan TIM benar-benar hidup sebagai ruang publik yang dapat diakses dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pelaku seni, terutama seniman lokal Jakarta.
Wa Ode mengaku menerima sejumlah pengaduan dari pelaku seni mengenai biaya penyelenggaraan pertunjukan di TIM yang dinilai cukup mahal. Kondisi tersebut, berpotensi menyulitkan seniman lokal untuk menjadikan TIM sebagai ruang berekspresi.
"Ada beberapa di fraksi kita terima pengaduan bahwa kalau mau buat pertunjukan di TIM itu berbayar dan mahal. Harapan saya supaya Jakpro ini melibatkan banyak seniman lokal dan memberikan harga atau sewa yang bisa digapai oleh para penggiat seni lokal di Jakarta," ujarnya.
Karena itu, Wa Ode mendorong Jakpro memperbanyak program kesenian sekaligus meningkatkan kualitas kegiatan yang digelar di TIM. Program tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada jumlah acara, tetapi mampu meningkatkan daya tarik masyarakat untuk datang dan memanfaatkan TIM sebagai ruang publik.
Dia juga meminta Jakpro membuka lebih banyak kesempatan bagi penggiat seni lokal untuk terlibat dalam berbagai pertunjukan dan kegiatan di TIM. Selain pertunjukan seni, program edukasi yang menyasar pelajar, mahasiswa, dan anak muda juga dinilai penting.
"Jadi Jakpro itu jangan hanya kejar kuantitas, tapi harus meningkatkan kualitas program. Misalnya memperbanyak pertunjukan, terus melibatkan penggiat-penggiat seni lokal, terus ada edukasi buat pelajar, mahasiswa, anak muda," tutur Wa Ode.
Dia menilai, keberadaan berbagai program yang berkualitas akan membuat TIM semakin hidup dan menarik lebih banyak masyarakat untuk datang. Dengan demikian, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang interaksi dan apresiasi seni bagi masyarakat Jakarta.
Namun, Wa Ode menegaskan keterlibatan seniman lokal menjadi catatan utama dalam pengelolaan TIM. Ia berharap para seniman Jakarta memiliki ruang yang representatif untuk berekspresi dan menggelar pertunjukan tanpa terbebani biaya sewa yang terlalu tinggi.
"Catatan saya yang paling penting adalah harus betul-betul memberikan ruang yang betul-betul representatif buat penggiat seniman lokal di Jakarta. Jadi seniman lokal itu juga punya rumah untuk melakukan ekspresi, pertunjukan tanpa mikirin biaya yang luar biasa membebani mereka nantinya," katanya.
Wa Ode yang juga politikus dari Fraksi PDI-P berharap, Jakpro dapat memperkuat fungsi TIM sebagai pusat kegiatan seni sekaligus ruang publik yang inklusif.
"Pengelolaan TIM seharusnya memberikan manfaat tidak hanya bagi pengelola, tetapi juga bagi ekosistem seni dan masyarakat Jakarta secara luas," pungkasnya. ***
| Editor | : | Senopati Ukoro |
| Kategori | : | Badminton, SEA Games, DKI Jakarta |













