Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
11 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
2
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
Kemenpora
21 jam yang lalu
Menpora Erick Tegaskan Pentinya Bangun Kultur Patriotik, Gigih, dan Berempati di Wirasena Youth Camp 2026
3
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
4 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
4 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
Kemenpora
11 jam yang lalu
Momentum HSP, Menpora Erick Hadiri Penghargaan Katadata Lifetime Achievement Award 2026
6
‎DPRD DKI Pastikan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan Tak Dipangkas di APBD 2027
Metropolitan
5 jam yang lalu
‎DPRD DKI Pastikan Anggaran Pendidikan dan Kesehatan Tak Dipangkas di APBD 2027
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Terseret Dolar, Berjangka Emas dan Perak Turun pada Laporan Perdagangan Yahoo Finance

Terseret Dolar, Berjangka Emas dan Perak Turun pada Laporan Perdagangan Yahoo Finance
Ilustrasi, emas batangan. (foto: sempsajp.com)
Selasa, 15 September 2026 08:59 WIB

JAKARTA - Pasar komoditas emas dunia kembali menunjukkan tren pelemahan hingga menyentuh titik terendah dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Senin waktu setempat. Kuatnya data inflasi Amerika Serikat (AS) yang diiringi oleh tren penguatan dolar AS menjadi faktor penekan yang mengarahkan pelaku pasar pada ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pekan ini.

Merujuk pada catatan Yahoo Finance hari Selasa (15/9/2026), pergerakan harga emas spot mengalami penyusutan 0,8 persen hingga menempati angka USD4.312,59 per ons pada pukul 13.30 EDT atau 17.30 GMT. Angka perdagangan tersebut sempat menyinggung rekor terendah sejak 7 Agustus. Pelemahan senada turut terjadi pada kontrak berjangka emas AS yang turun 1,3 persen menjadi USD4.351,90 per ons.

Penyusutan nilai ini menjalar ke sejumlah pasar logam mulia lain. Terpantau harga perak spot susut 1,2 persen menuju USD63,71 per ons. Sementara itu, nilai platinum melemah 1,6 persen ke level USD1.768,17 per ons dan paladium turun 0,7 persen menjadi USD1.290,41 per ons.

Pengaruh Kuat Rilis Inflasi dan Dolar

Tekanan di pasar logam ini banyak dipengaruhi oleh indikator makroekonomi AS. Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat sebelumnya merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang memperlihatkan peningkatan 0,4 persen pada bulan lalu, lebih tinggi dari catatan kenaikan 0,1 persen di bulan Juli. Hal ini memicu perkiraan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed menyentuh 93 persen pada pertemuan kebijakan pekan ini berdasarkan kalkulasi pasar CME FedWatch Tool.

Sejalan dengan itu, mayoritas ekonom yang dilibatkan dalam survei Reuters sepakat memperkirakan The Fed akan memberlakukan kenaikan suku bunga pada Rabu ini. Mereka juga memproyeksikan ada tambahan setidaknya satu kali kenaikan lagi hingga akhir Maret.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, daya tarik emas luntur saat tingkat suku bunga naik. Terlebih, dolar AS mencatat posisi di level tertinggi dalam dua pekan terakhir, membuat transaksi emas yang menggunakan denominasi mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Gejolak Eksternal dan Timur Tengah

Dari sisi komoditas lain, tekanan terhadap harga emas juga datang dari naiknya harga minyak sekitar empat persen pada Senin pagi. Kenaikan energi ini terjadi pasca adanya serangan baru pada infrastruktur energi dan sipil di Arab Saudi. Kekhawatiran pasokan energi muncul usai jalur pipa minyak utama Arab Saudi ditutup, disusul insiden serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk.

Agenda diplomasi Timur Tengah menghadapi ketidakpastian setelah rencana pertemuan antara Iran dengan negara-negara Teluk lainnya ditunda.

Menanggapi situasi ini, Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff menyebutkan, "Harga minyak mentah hari ini melonjak tajam, yang mendorong ekspektasi inflasi dan menunjukkan bank sentral utama dunia harus memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Kondisi itu berdampak negatif bagi logam mulia."

Di tingkat global, Bank Sentral Jepang diperkirakan turut menaikkan suku bunga pada hari Jumat, sebagai respons atas naiknya harga energi serta mulai adanya tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Ekonomi
wwwwww