Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
10 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
9 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
10 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Menanti Arah Suku Bunga BI, Rupiah Tergelincir ke Posisi Rp17.899 per Dolar AS

Menanti Arah Suku Bunga BI, Rupiah Tergelincir ke Posisi Rp17.899 per Dolar AS
Ilustrasi (net)
Selasa, 22 September 2026 12:55 WIB

JAKARTA - Tekanan terhadap mata uang Rupiah kembali terasa di pasar spot jelang penentuan nasib kebijakan moneter dalam negeri. Pada perdagangan Selasa (22/9/2026), nilai tukar Rupiah harus rela merosot ke level Rp17.899 per Dolar AS, membuat para pelaku usaha dan investor mengalihkan fokus pada langkah konkret Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan catatan Bloomberg yang ditarik pada pukul 09.50 WIB, mata uang domestik ini tergelincir 52 poin atau setara dengan 0,29 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Fluktuasi tersebut terjadi tepat satu hari sebelum BI secara resmi menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (23/9/2026) esok.

Pengaruh Kebijakan Moneter Global

Koreksi mata uang ini saling berkait dengan kondisi ekonomi global yang serba dinamis. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah saat ini tengah dikepung oleh badai inflasi tinggi serta kebijakan bank sentral di seluruh dunia yang kian terfragmentasi.

"Pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika nilai tukar Rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global tersebut," terang Ibrahim menanggapi situasi pasar.

Menurutnya, manuver The Fed selaku bank sentral Amerika Serikat yang mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) memberikan sentimen tersendiri bagi pergerakan mata uang di Asia. Keputusan The Fed tersebut membuka kemungkinan yang cukup lebar bagi otoritas moneter Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan serupa demi menjaga stabilitas Rupiah.

Bayang-bayang Harga Minyak Mentah

Selain faktor kebijakan eksternal bank sentral, meletupnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut menjadi pemicu kuat. Konflik tersebut menahan harga minyak dunia melambung tinggi dan menetap di atas angka 100 Dolar AS per barel, yang secara otomatis membebani biaya impor energi.

Melihat realita inflasi global dan harga energi yang meroket, Ibrahim memproyeksikan BI sangat berpotensi menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 25 bps. Ia tidak menampik pernyataan Gubernur BI, Destry Damayanti yang menilai suku bunga Indonesia sebenarnya sudah cukup tinggi menyusul kenaikan 100 basis poin yang telah dilakukan bank sentral sebelumnya.

Namun, realitas di lapangan menghadirkan desakan tersendiri. "Saya melihat dalam kondisi saat ini, kondisi Bank Sentral Amerika sudah menaikkan suku bunga 25 basis point, ada kemungkinan besar Bank Indonesia dalam pertemuan di minggu ini akan melakukan hal yang sama," pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Ekonomi, DKI Jakarta
wwwwww