Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
9 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
8 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
DKI Jakarta
10 jam yang lalu
Rizky Ridho Tegaskan Tekad Tak Mau Kalah di Balik Kemenangan Persija
Home  /  Berita  /  Umum

Laporan Resmi CIA Ungkap Ancaman Perang Saudara dan Potensi Keruntuhan Rezim Israel

Laporan Resmi CIA Ungkap Ancaman Perang Saudara dan Potensi Keruntuhan Rezim Israel
Laporan CIA klaim Israel akan hancur karena perang saudara dan konflik yang berkepanjangan. (foto/x)
Selasa, 06 Oktober 2026 14:11 WIB

JAKARTA - Laporan resmi dari badan intelijen Amerika Serikat, CIA, membeberkan bahwa rezim Israel saat ini menghadapi risiko serius berupa perang saudara hingga keruntuhan negara. Ancaman tersebut merupakan imbas dari agresi militer dan konflik panjang yang membebani sistem internal mereka.

Dokumen bulan Agustus yang sebagian isinya diungkap oleh media independen Drop Site News pada Senin lalu itu, menyoroti tingginya tekanan di kalangan pemukim Yahudi. Laporan itu merincikan berbagai faktor yang berpotensi memicu perpecahan besar di wilayah pendudukan.

Beberapa pemicunya meliputi krisis ekonomi akibat lonjakan belanja militer, kekerasan pemukim di Tepi Barat, serta kemarahan publik terkait pengecualian pria ultra-Ortodoks dari wajib militer. Sikap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang terus mempertahankan kekuasaan jelang pemilihan umum akhir Oktober juga memegang peran dalam membesarnya krisis internal tersebut.

Dampak Tentara Trauma dan Krisis Ekonomi

Pakar CIA menyebutkan bahwa pengecualian wajib militer bagi kelompok ultra-Ortodoks telah menciptakan perpecahan mendalam di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, besarnya biaya agresi di Gaza menyebabkan inflasi mencapai rekor tertinggi, yang semakin meningkatkan kebencian publik terhadap rezim.

Kondisi ini diperparah oleh personel militer yang kembali dari zona tempur di Gaza, Lebanon, dan Iran. Para tentara yang bersenjata lengkap dan mengalami trauma ini dilaporkan memiliki "senjata dan hasrat haus darah" yang dapat memicu perang saudara secara menyeluruh.

Isolasi Internasional Mempercepat Keruntuhan

Meningkatnya isolasi Israel di kancah global, termasuk dari Amerika Serikat, turut membebani rezim tersebut. Analisis intelijen memperingatkan bahwa pengucilan internasional yang terus berlanjut dapat mempercepat keruntuhan negara yang tengah rapuh itu.

Interaksi dari berbagai faktor tekanan di tengah krisis internal ini berpotensi menimbulkan skenario akut lainnya. Skenario tersebut mencakup penarikan operasional perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan, hingga peninjauan kembali kesepakatan normalisasi hubungan oleh pemerintah negara-negara Arab dengan Israel.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Israel sedang mengakumulasi kontradiksi di bidang ekonomi, politik, dan sosial di balik citra dominasi militernya. Kekuatan militer serta dukungan berkelanjutan dari AS diprediksi tidak akan mampu membendung bencana yang mengancam rezim tersebut. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:sindonews.com
Kategori:Umum
wwwwww