Harga Minyak Dunia Tembus 101 Dolar, Serangan di Selat Hormuz Ancam Pasokan Global
![]() |
| Ilustrasi. |
JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melonjak seiring meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran nyata terhadap kelancaran distribusi energi dari Timur Tengah, yang dampaknya turut membayangi pasar global, termasuk stabilitas harga di Provinsi Riau.
Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), harga minyak mentah Brent tercatat naik 1,33 Dolar AS atau 1,33 persen menyentuh 101,53 Dolar AS per barel. Sementara itu, patokan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 1,11 Dolar AS atau 1,26 persen menjadi 89,39 Dolar AS per barel.
Kenaikan tajam ini merespons pelemahan harga yang sempat terjadi pada perdagangan sehari sebelumnya. Badan Energi Internasional (IEA) sebenarnya telah menyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak serta memprioritaskan pasokan diesel, namun langkah tersebut belum mampu meredam kepanikan pasar.
Jalur Krusial Selat Hormuz Terganggu
Selat Hormuz merupakan titik maritim yang sangat krusial karena dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar dunia sebelum perang pecah. Konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran yang kini memasuki bulan kedelapan menyebabkan intensitas serangan terhadap kapal tanker melonjak tajam sepanjang Oktober.
Berdasarkan laporan Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris, insiden mematikan terbaru terjadi pada Rabu lalu di perairan utara Qatar. Sebuah kapal tanker hancur dihantam sejumlah proyektil dan dilaporkan menimbulkan korban jiwa di lokasi kejadian.
Stok Minyak AS Menyusut Drastis
Tekanan terhadap kelancaran pasokan energi ini turut diperparah oleh laporan resmi persediaan minyak AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah negara tersebut anjlok 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober.
Penurunan tersebut terpantau jauh melampaui proyeksi para analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya hanya memperkirakan penyusutan sebesar 1,7 juta barel. Di samping itu, persediaan bahan bakar distilat yang mencakup diesel dan avtur juga dilaporkan berkurang 42.000 barel menjadi 105,14 juta barel. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | rmop.id |
| Kategori | : | Umum |













