Okto: Evaluasi Tak Cukup Berhenti pada Kalimat Target Empat, Hasilnya Lima Emas
![]() |
| Raja Sapta Oktohari. (NOC Indonesia) |
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Ternyata Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari mengamati capaian prestasi Kontingen Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Makanya, Okto, panggilan karibnya, mengusulkan capaian Pasukan Merah Putih itu tidak hanya dirayakan sebagai keberhasilan memenuhi target tetapi dijadikan momentum mengevaluasi sistem pembinaan olahraga nasional.
Indonesia menutup Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan menempati posisi peringkat ke-16 dengan mengoleksi lima medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Raihan emas tersebut melampaui target pemerintah sebanyak empat medali emas.
Yang menjadi perhatia Okto yakni perolehan lima medali emas yang dihasilkan empat cabang olahraga unggulan yang sudah mengukir prestasi di Olimpiade. Yakni, bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
“Lima emas tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lima emas ini bisa menjadi sepuluh dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite,” ujarnya.
Apa yang disebut Okto memang sebuat fakta yang tidak terbantahkan. Selama keikutsertaan di Olimpiade, Indonesia memang baru menghasilkan medali dari cabor tersebut.
Koleksi medali bulutangkis Indonesia di Olimpiade sejak pertama kali dipertandingkan secara resmi pada Olimpiade Barcelona 1992 hingga Olimpiade Paris 2024 berjumlah 22 medali. Terdiri dari 8 emas, 6 perak, dan 8 perunggu.
Lalu, angkat besi Indonesia telah mengoleksi total 10 medali di Olimpiade (1 Emas, 4 Perak, dan 5 Perunggu. Disusul panahan yang mengoleksi 1 medali perak di Olimpiade Seoul 1988 dan panjat terbing lewat Veddriq Leonardo pada Olimpiade Paris 2024.
Menurut Okto, keberhasilan empat cabang tersebut justru perlu dipelajari secara lebih mendalam untuk menemukan faktor yang membuat mereka mampu menghasilkan prestasi.
“Kita harus membedah apa yang membuat mereka berhasil, mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi hingga ekosistemnya. Kalau kita tahu faktornya, kita bisa mencari apa yang relevan untuk cabang olahraga lain,” katanya.
Berbicara soal talenta, Okto meyakini cukup besar. Dengan populasi besar, ribuan sekolah dan klub, serta keragaman potensi fisik itu bisa dilihat, hanyak saja, kata Okto, persoalannya terletak pada bagaimana talenta tersebut ditemukan, ditempatkan, dan dikembangkan secara tepat.
“Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga. Itu talenta Indonesia. Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science seorang atlet ternyata lebih cocok di cabor lain, kenapa harus takut memindahkannya? Kepentingan nasional itu harus lebih besar daripada ego sektoral,” imbuhnya.
Makanya, Okto mendorong penguatan cross-sport talent, scouting berbasis data, serta pembinaan jangka panjang. Karena, Okto sangay memahami, membangun atlet elite membutuhkan waktu, pelatih berkualitas, kompetisi, sport science, nutrisi, fasilitas, kedokteran olahraga, dan dukungan anggaran yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Okto menegaskan perlunya ada prioritas dalam pembinaan prestasi. Tidak semua cabang olahraga dapat memperoleh pendekatan dan sumber daya yang sama. Termasuk dukungan dana yang memadai kepada cabor yang dinilai punya potensi menghasilkan medali di ajang single dan multi event dunia.
“Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga. Tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangkan. Kalau orientasinya medali, dukungannya juga jangan setengah-setengah,” ujarnya.
Okto juga menekankan pentingnya budaya evaluasi yang sehat. Kritik, menurutnya, tidak boleh dianggap sebagai serangan terhadap organisasi atau individu, melainkan harus diubah menjadi dasar pengambilan keputusan.
“Kritik harus kita ubah menjadi data, data menjadi evaluasi, evaluasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi perbaikan. Olahraga modern harus berbicara dengan data,” katanya.
Bagi Okto, evaluasi Aichi-Nagoya tidak cukup berhenti pada kalimat “target empat, hasilnya lima”. Yang harus dijawab adalah bagaimana prestasi tersebut dapat diperluas dan dibuat berkelanjutan.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah sistem, konsistensi menjalankan keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama. Lima emas adalah pencapaian yang harus diapresiasi, tetapi juga menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: bagaimana kita membangun Indonesia sebagai kekuatan olahraga dunia?” pungkasnya. ***
| Kategori | : | Asian Games, DKI Jakarta |













