Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Memaknai Kesaktian Pancasila di Tengah Pandemi Corona
Politik
11 jam yang lalu
Memaknai Kesaktian Pancasila di Tengah Pandemi Corona
2
Basarah: Tunda Dulu New Normal di Sektor Pendidikan
Politik
11 jam yang lalu
Basarah: Tunda Dulu New Normal di Sektor Pendidikan
3
Jadikan Nilai-nilai Pancasila bagian Solusi dalam Menghadapi Masalah Bangsa
MPR RI
11 jam yang lalu
Jadikan Nilai-nilai Pancasila bagian Solusi dalam Menghadapi Masalah Bangsa
4
Hari Lahir Pancasila, Pimpinan DPD Ajak Semua Elemen Gelorakan Budaya Gotong Royong
Politik
10 jam yang lalu
Hari Lahir Pancasila, Pimpinan DPD Ajak Semua Elemen Gelorakan Budaya Gotong Royong
5
LaNyalla Siap Carikan Solusi bagi Nelayan Muncar yang Tak Punya Tempat Tinggal Layak Huni
DPD RI
10 jam yang lalu
LaNyalla Siap Carikan Solusi bagi Nelayan Muncar yang Tak Punya Tempat Tinggal Layak Huni
6
IMI Dukung Penerapan New Normal demi Menyelamatkan Ekonomi Nasional
Pemerintahan
11 jam yang lalu
IMI Dukung Penerapan New Normal demi Menyelamatkan Ekonomi Nasional

Peneliti Ungkap Hubungan Patah Hati dengan Kanker

Peneliti Ungkap Hubungan Patah Hati dengan Kanker
Ilustrasi patah hati. (int)
Sabtu, 20 Juli 2019 08:54 WIB
NEW YORK - Stress-induced cardiomyopathy atau takotsubo cardiomyopathy (patah hati) bisa menyebabkan seseorang berumur pendek. Buktinya, sejumlah orang meninggal dunia tak lama setelah pasangannya atau orang yang dicintainya meninggalkannya.

Dikutip dari republika.co.id yang melansir CNN pada Jumat (19/7), saat patah hati seseorang biasanya tiba-tiba merasakan sakit pada bagian dada yang disebabkan oleh lonjakan jumlah hormon stres. Berdasarkan hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of the American Heart Association, ditemukan fakta bahwa patah hati dapat berkaitan dengan kanker.

Studi itu mendapati satu dari enam orang dengan sindrom patah hati juga menderita kanker. Mereka lebih berpotensi meninggal dalam lima tahun setelah diagnosis, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami sindrom patah hati. Meskipun, para peneliti menunjukkan hubungan antara sindrom patah hati dan kanker belum sepenuhnya dieksplorasi.

Riset ini melibatkan 1.600 pasien dengan sindrom patah hati. Akan tetapi para peneliti tidak menemukan sebab akibat. Penelitian hanya menjelaskan bahwa ada hubungan antara keduanya.

Di satu sisi, bagi orang-orang yang menderita kanker atau sindrom patah hati, hal ini tidak selalu menjadi alasan untuk khawatir. Ini berarti bahwa pasien dengan sindrom patah hati mungkin harus menjalani lebih banyak skrining untuk memantau pertumbuhan kanker.

Dalam penelitian itu disebutkan jumlah pasien yang mengalami patah hati dan serangan kanker ganas cukup besar. Hal ini terjadi karena riwayat keganasan dapat meningkatkan resiko sindrom patah hati. Karena itu, skrining yang tepat untuk keganasan kanker harus dipertimbangkan pada pasien dengan sindrom patah hati. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww