Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ingin Bayar Listrik dengan Mobile Banking, ID Pelanggan Justru Diblokir PLN
Nasional
16 jam yang lalu
Ingin Bayar Listrik dengan Mobile Banking, ID Pelanggan Justru Diblokir PLN
2
Ki Gendeng Pamungkas Meninggal Dunia Akibat Komplikasi Diabetes dan Jantung
Umum
23 jam yang lalu
Ki Gendeng Pamungkas Meninggal Dunia Akibat Komplikasi Diabetes dan Jantung
3
Andrianus Garu Minta Jokowi Tunda Pilkada dan Evaluasi Kabinet Jilid 2
Pemerintahan
23 jam yang lalu
Andrianus Garu Minta Jokowi Tunda Pilkada dan Evaluasi Kabinet Jilid 2
4
Perombakan Direksi PT Hutama Karya, Lukman Edy Tetap Jabat Wakil Komisaris
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Perombakan Direksi PT Hutama Karya, Lukman Edy Tetap Jabat Wakil Komisaris
5
Bamsoet: TNI Garda Terdepan Penjaga Ideologi Pancasila
Peristiwa
22 jam yang lalu
Bamsoet: TNI Garda Terdepan Penjaga Ideologi Pancasila
6
MPR: Protokol Kesehatan di Masa Transisi Wajib Dipatuhi
MPR RI
22 jam yang lalu
MPR: Protokol Kesehatan di Masa Transisi Wajib Dipatuhi

Angin Panas Berkecepatan 60 Kilometer/Jam Terjang Sumbar

Angin Panas Berkecepatan 60 Kilometer/Jam Terjang Sumbar
Ilustrasi angin kencang. (republika.co.id)
Minggu, 23 Februari 2020 11:35 WIB
PADANG - Angin panas dan kering berkecepatan 60 kilometer per jam menerjang Kota Padang, Padangpariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Pariaman, Padangpanjang, Agam, Pesisir Selatan, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat, sejak beberapa hari lalu.

Dikutip dari Liputan6.com, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau, angin ini berasal dari pengaruh angin timur laut di Sumatera Barat yang bergerak ke pusat tekanan rendah di Samudera Hindia.

Kepala BMKG Minangkabau, Sukimin menjelaskan, fenomena angin timur laut ini setelah melewati Bukit Barisan bersifat panas dan kering, sehingga menimbulkan pola inversi udara di lapisan atas atmosfer.

''Kecepatan angin mencapai 300 knots per jam,'' kata Sukimin kepada Liputan6.com, Sabtu (22/2/2020).

Hasil pengamatan udara lapisan atas Stasiun Meteorologi Minangkabau menunjukkan terjadinya proses pemanasan di lapisan 950mb yang menimbulkan inversi suhu udara atau suhu udara lapisan atas di atmosfer relatif lebih hangat dibanding di permukaan.

''Hal itu menyebabkan suhu di sebagian wilayah Sumbar terasa panas,'' katanya.

BMKG memerkirakan angin kencang masih akan melanda Sumbar hingga dua hari ke depan. BMKG pun mengimbau agar masyarakat mewaspadai bencana yang ditimbulkan oleh angin kencang tersebut.

''Angin sekencang ini bisa saja menyebabkan pohon tumbang,'' ujarnya.

Selain itu kelembaban udara yang cenderung kering disertai angin yang kencang meningkatkan kemudahan potensi kebakaran. BMKG menyebutkan dengan kondisi seperti itu, percepatan sebaran kebakaran lahan akan meningkat.

''Jangan membakar sampah di lahan kering atau membuang puntung rokok sembarangan,'' ujar Sukimin.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Ragam

wwwwww