Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Terungkap Tabir Uang di Rekening Cleaning Service Kejagung Tajir
MPR RI
3 jam yang lalu
Terungkap Tabir Uang di Rekening Cleaning Service Kejagung Tajir
2
Peringati Hari Santri, Gus Jazil Gandeng Anak Jalanan dan Kaum Marjinal
Peristiwa
2 jam yang lalu
Peringati Hari Santri, Gus Jazil Gandeng Anak Jalanan dan Kaum Marjinal
3
Wanita yang Tewas di Kandang Buaya Kaltim Ber-KTP Jawa
Hukum
22 jam yang lalu
Wanita yang Tewas di Kandang Buaya Kaltim Ber-KTP Jawa
4
Santri Diminta jadi Agen Perubahan melalui 'Resolusi Jihad' Melawan Pandemi
DPR RI
23 jam yang lalu
Santri Diminta jadi Agen Perubahan melalui Resolusi Jihad Melawan Pandemi
5
Gedung Kejagung Terbakar atau Dibakar? Legislator Minta Polri Transparan
Hukum
23 jam yang lalu
Gedung Kejagung Terbakar atau Dibakar? Legislator Minta Polri Transparan
6
Akses Keluar-Masuk Pesantren Ini Dibatasi Pasca 44 Orang Positif Covid-19
Kesehatan
23 jam yang lalu
Akses Keluar-Masuk Pesantren Ini Dibatasi Pasca 44 Orang Positif Covid-19

Angin Panas Berkecepatan 60 Kilometer/Jam Terjang Sumbar

Angin Panas Berkecepatan 60 Kilometer/Jam Terjang Sumbar
Ilustrasi angin kencang. (republika.co.id)
Minggu, 23 Februari 2020 11:35 WIB
PADANG - Angin panas dan kering berkecepatan 60 kilometer per jam menerjang Kota Padang, Padangpariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Pariaman, Padangpanjang, Agam, Pesisir Selatan, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat, sejak beberapa hari lalu.

Dikutip dari Liputan6.com, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Minangkabau, angin ini berasal dari pengaruh angin timur laut di Sumatera Barat yang bergerak ke pusat tekanan rendah di Samudera Hindia.

Kepala BMKG Minangkabau, Sukimin menjelaskan, fenomena angin timur laut ini setelah melewati Bukit Barisan bersifat panas dan kering, sehingga menimbulkan pola inversi udara di lapisan atas atmosfer.

''Kecepatan angin mencapai 300 knots per jam,'' kata Sukimin kepada Liputan6.com, Sabtu (22/2/2020).

Hasil pengamatan udara lapisan atas Stasiun Meteorologi Minangkabau menunjukkan terjadinya proses pemanasan di lapisan 950mb yang menimbulkan inversi suhu udara atau suhu udara lapisan atas di atmosfer relatif lebih hangat dibanding di permukaan.

''Hal itu menyebabkan suhu di sebagian wilayah Sumbar terasa panas,'' katanya.

BMKG memerkirakan angin kencang masih akan melanda Sumbar hingga dua hari ke depan. BMKG pun mengimbau agar masyarakat mewaspadai bencana yang ditimbulkan oleh angin kencang tersebut.

''Angin sekencang ini bisa saja menyebabkan pohon tumbang,'' ujarnya.

Selain itu kelembaban udara yang cenderung kering disertai angin yang kencang meningkatkan kemudahan potensi kebakaran. BMKG menyebutkan dengan kondisi seperti itu, percepatan sebaran kebakaran lahan akan meningkat.

''Jangan membakar sampah di lahan kering atau membuang puntung rokok sembarangan,'' ujar Sukimin.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Ragam
wwwwww