Austria Tutup 7 Masjid dan Usir Puluhan Imam, Presiden Turki: Ini Gerakan Islamofobia, Rasialis dan Diskriminatif

Austria Tutup 7 Masjid dan Usir Puluhan Imam, Presiden Turki: Ini Gerakan Islamofobia, Rasialis dan Diskriminatif
Masjid di Austria. (voaindonesia)
Sabtu, 09 Juni 2018 15:47 WIB
WINA - Pemerintah Austria menutup tujuh masjid dan mengusir puluhan imam. Kanselir Austria Sebastian Kurz berdalih, ketujuh masjid tersebut ditutup karena memiliki hubungan dengan nasionalis Turki.

Dikutip dari republika.co.id, Pemerintah Austria mengatakan, 60 dari 260 imam di Austria sedang diselidiki oleh pihak berwenang Austria, dilansir di BBC, Jumat (8/6).

Pada April lalu, muncul gambar-gambar yang menunjukkan anak-anak dalam seragam tentara Turki memerankan kembali Pertempuran Gallipoli selama Perang Dunia Pertama.

Media Austria melaporkan bahwa dalam peran yang dilakukan anak-anak itu, termasuk anak-anak berperan mati dan ditutupi dengan bendera Turki, di dalam sebuah masjid yang dikelola oleh organisasi kesejahteraan Islam Turki yang disebut ATIB.

''Masyarakat paralel, politik Islam dan kecenderungan radikalisasi tidak memiliki tempat di negara kita,'' kata Kanselir Kurz, Jumat.

Pihak berwenang telah bekerja dengan sebuah badan komunitas Muslim yang disebut IGG untuk mengidentifikasi masjid dan imam yang dicurigai sebagai koneksi radikal Islam atau nasionalis.

Media publik Austria ORF mengatakan, salah satu dari tujuh masjid, di Wina-Favoriten, telah dikaitkan dengan foto-foto anak-anak melakukan sapaan Grey Wolves.

The Grey Wolves adalah kelompok nasionalis Turki sayap kanan, dengan cabang di beberapa negara. Tiga dari masjid-masjid yang direncanakan akan ditutup berada di Wina, dua di Masjid Hulu dan satu di Carinthia. 

Turki Kecam Austria

Pemerintah Turki mengecam langkah Austria menutup tujuh masjid dan mengusir puluhan imam masjid tersebut.

Salah satu masjid yang ditutup adalah masjid yang dikelola kelompok pemuda Grey Wolves, sebuah kelompok nasionalis Turki. Masjid ini ditutup karena tidak memiliki izin.

Sedangkan enam masjid lainnya merupakan masjid yang dikelola kelompok Muslim Arab. Sesuai pernyataan pemerintah, masjid yang berafiliasi dengan asing akan ditutup.

Menurut juru bicara Presiden Turki Tayyep Erdogan, Ibrahim Kalin, kebijakan ini merupakan sebuah gerakan islamofobia, rasialis dan diskriminatif di Austria. ''Praktik-praktik ideologis pemerintah Austria melanggar prinsip-prinsip hukum universal, kebijakan integrasi sosial, hak minoritas dan etika koeksistensi,'' kata  Ibrahim Kalin dalam Twitter-nya.

Pemerintah Austria yang berkuasa saat ini adalah koalisi aliansi konservatif kanan. Mereka membuat kebijakan krisis yang terjadi di Eropa akibat adanya imigran dan pengungsi sehingga mereka berjanji mencegah masuknya imigran baru dan pengungsi.

Langkah penutupan masjid dan pengusiran imam ini merupakan bagian dari undang-undang Islam yang disahkan 2015 lalu.

Pemerintah Austria melarang pendanaan asing dari kelompok agama. Selain itu organisasi Islam di Austria harus bertanggung jawab menyebarkan berita positif mengenai negara dan masyarakat Austria.

Pernyataan penutupan dan pengusiran imam masjid dilakukan oleh Kanselir Austria Sebastian Kurz dalam konferensi pers di Wina, Austria, Jumat (8/6). ''Muslim yang memiliki pandangan politik Islam dan memiliki kecenderungan radikal tidak memiliki tempat di negara kita,'' kata dia.

Wakil Kanselir Heinz Christian juga sepakat dengan pernyataan Kurz, dan menyebutkan langkah ini baru permulaan. Mereka berencana mengusir 60 imam masjid yang tergabung dalam Uni Islam Turki untuk Kerja sama Budaya dan Sosial di Austria (ATIB). Kelompok ini memang dikenal dekat dengan pemerintah Turki.

Tak hanya diusir, imam masjid tersebut juga akan mengalami penolakan visa karena menerima dana asing. Sebuah selebaran pemerintah menyebutkan saat ini sudah 40 imam yang terdata, 11 diantaranya sedang diperiksa dan dua diantaranya mendapatkan putusan negatif.

''Kami saat ini sedang bekerja agar imam yang ada dibayar dari dana di dalam negeri,'' ujar dia.

Austria merupakan negara dengan jumlah penduduk sekitar 8,8 juta orang. Sekitar 600 ribu di antaranya bergama Islam. Sebagian besar dari mereka adalah warga Turki atau memiliki keluarga yang berasal dari Turki.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww