Diduga 2 Partai Ini Gagalkan Mahfud MD Jadi Cawapres

Diduga 2 Partai Ini Gagalkan Mahfud MD Jadi Cawapres
Mahfud MD. (dok)
Sabtu, 11 Agustus 2018 13:48 WIB
JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD batal dipilih Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon wakil presiden (Cawapres), setelah sempat diminta mempersiapkan diri untuk mengikuti deklarasi calon presiden (Capres) dan Cawapres kubu Jokowi. Jokowi akhirnya memutuskan memilih KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapres.

Diduga ada dua partai politik yang menggagalkan keinginan Jokowi memilih Mahfud MD sebagai Cawapres.

Dikutip dari tribunnews.com, politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) Taufiqulhadi, mengungkapkan, Mahfud MD gagal jadi Cawapres Jokowi karena komunikasinya dengan Golkar dan PKB belum membuahkan hasil positif.

''Saya berfikir bahwa (komunikasi politik Mahfud MD) dengan semua partai yang ada sudah terbangun dengan baik. Mungkin yang belum terbangun dan yang belum terselesaikan komunikasinya dengan Golkar dan PKB,'' terang Taufiqulhadi dalam diskusi bertema: ''Kejutan Capres-Cawapres'', Sabtu (11/8/2018) di Menteng, Jakarta Pusat.

Taufiqulhadi yang menjadi pembicara, mewakili tim sukses Jokowi-Kiai Ma'aruf Amin, mengatakan, Mahfud sudah legowo dengan keadaan tersebut. Mahfud tidak lagi mempersoalkan batal menjadi Cawapres.

''Untuk saya, hal tersebut sudah disadari (Mahfud MD) dan Pak Mahfud juga sudah tidak terlalu mempersoalkannya,'' kata Taufiqulhadi.

Sebelumnya pengamat politik Ray Rangkuti menilai dipilihnya Ma'ruf Amin sebagai Cawapres kubu Joko Widodo adalah pilihan tengah. Hal ini menyusul adanya partai yang menolak nama Mahfud MD sebagai pasangan Jokowi.

''Alasan paling mendasar karena ada penolakan dari partai koalisi yang mendukung Jokowi. Di antaranya ada PKB dan saya dengar juga Golkar. Mereka keberatan kalau yang dipilih Mahfud MD,'' ujar Ray saat dihubungi republika.co.id, Jumat (10/8).

Nama Mahfud MD memang sempat muncul dan diprediksi kuat sebagai pasangan Jokowi beberapa jam sebelum deklarasinya pada Kamis malam. Namun dugaan ini ternyata melenceng.

Bagi beberapa pihak, Mahfud MD dianggap sebagai saingan. Sosoknya memiliki potensi menjadi lawan di pemilihan presiden 2024 mendatang.

''Mereka lebih merasa nyaman jika memilih sosok yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk maju di pilpres berikutnya. Makanya nama Ma'ruf Amin muncul,'' lanjut Ray.

Pertimbangan lainnya, Ma'aruf Amin dianggap dapat melawan isu SARA khususnya agama yang dapat menerpa Jokowi. Ma'ruf Amin memiliki kekuatan dan pengaruh untuk hal tersebut.

Meski dianggap sebagai pilihan tengah, Ma'ruf Amin tentu memiliki kelemahan. Pasangan Jokowi-Ma'ruf lemah untuk suara pemilih milenial.

Sosok Ma'ruf Amin kurang diminati bagi kelompok pemilih pemuka atau milenial. Bahkan bagi kelompok pejuang toleransi dan pluralisme, Ma'aruf Amin bukan sosok yang nyaman bagi mereka.

''Setiap pilihan pasti ada risikonya. Salah satu cara menaikkan suara bagi mereka ya di masa kampenye nanti. Ada 10 bulan waktunya,'' lanjut Ray.

Presiden Joko Widodo menjelaskan ia memilih Kiai Ma'ruf Amin sebagai Cawapres, atas dasar kebinnekaan. 

Ia mengatakan Ma’ruf Amien merupakan sosok yang tepat yang memiliki latar belakang yang mumpuni. Selain sebagai tokoh agama, Ma'ruf juga pernah menjabat di berbagai posisi. 

''Beliau sebagai anggota DPRD, DPR RI, MPR RI, wantimpres, rais am PBNU dan juga ketua MUI. Dalam kaitannya dengan kebimnekaan Profesor Ma'ruf Amien saat ini juga menjabat sebagai dewan pengarah BPIP,'' kata dia Jokowi dalam deklarasinya di Restoran Plataran Menteng, Jakarta, Kamis (9/8). 

Jokowi menilai keputusan kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden dan menggandeng Ma’ruf diambil setelah mendapatkan berbagai masukan. Jokowi mengaku mendengarkan saran dari para ulama, ketua umum partai, dan seluruh pengurus partai serta relawan pendukungnya.***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews dan republika.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww