Kisah Pilu Siswi SMA Korban Gempa di Palu, 2 Hari Bertahan Hidup di Samping Jenazah Ibunya dalam Kubangan

Kisah Pilu Siswi SMA Korban Gempa di Palu, 2 Hari Bertahan Hidup di Samping Jenazah Ibunya dalam Kubangan
Suasana di kawasan Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, pasca diguncang gempa 7,4 SR dan diterjang tsunami, Sabtu (29/9/2018). (tribunnews)
Minggu, 30 September 2018 14:14 WIB
PALU - Gempa 7,7 SR disusul gelombang tsunami Jumat (28/9/2018), memorakporandakan Pantai Palu, Sulawesi Selatan. Berbagai cerita pilu lahir akibat musibah dahsyat tersebut. Diantaranya kisah pilu yang dialami siswi SMA bernama Nurul.

Dikutip dari grid.id, yang melansir kompas.com, Nurul ditemukan masih hidup saat terjebak dalam kubangan air di Kompleks Perumnas Bala Roa, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tim Basarnas berhasil menyelamatkan Nurul pada Minggu (30/9/2018).

Selama dua hari terjebak dalam kubangan air itu, Nurul berdampingan dengan jenazah ibunya, Risni. Risni diduga meninggal Jumat.

Kubangan air tersebut berasal dari PDAM yang bocor sehingga menutupi setengah badannya.

Sang ayah yang selamat berusaha untuk membantu putri dan istrinya yang terjebak, namun kondisi tak memungkinkan.

''Anakku sempat minta tolong.''

''Waktu kejadian saya di samping rumah.''

''Saat gempa saya lari keluar dan tidak bisa lagi menyelamatkan ibunya dan dua anakku,'' tutur Yusuf, ayah Nurul.

Nurul bisa bertahan selama dua hari karena keluarganya yang selamat terus memberikan makanan dan air minum untuknya.

Meski ia bisa bertahan selama 2 hari, saat ditemukan oleh tim Basarnas Nurul, tampak lemah dan letih.

Lokasi tempat Nurul terjebak merupakan satu kelurahan dengan ratusan rumah yang rata dengan tanah.

Bau bangkai juga mulai menyengat di lokasi tersebut.

Bahkan, menurut warga, masih banyak mayat yang terjebak di dalam rumah dan belum dievakuasi.

Rahmat, salah satu warga sekitar Perumnas Bala Roa, menjelaskan, gempa ini meluluhlantahkan satu kelurahan, ratusan rumah rusak berat, dan menyebabkan tanah longsor.

Melansir Tribunnews, tim Basarnas Minggu pagi melakukan upaya evakuasi yang berada dalam tiga titik, yakni Perumnas Bala Roa, Hotel Roa-roa, dan Mall Ramayana.

Hingga pagi tadi, Minggu (30/9/2018), korban gempa Palu sudah lebih dari 400 orang.

Kabar terakhir menyebutkan jumlah korban telah mencapai 420 orang dan ini masih bisa terus bertambah.

Sebelumnya telah dikabarkan bahwa gempa terjadi lebih dari lima kali dengan magnitudo antara 5-7,4.

Gelombang tsunami kemudian menerjang Pantai Talise, Palu.

Dilansir dari BMKG, tinggi gelombang diperkirakan antara 0,5-2,0 meter.

Akibat kejadian ini banyak bangunan yang roboh.

Salah satu saksi mata yaitu Nining sempat melihat kondisi pasca gempa dan tsunami.

''Banyak mayat berserakan di pantai dan mengambang di permukaan laut,'' kata Nining saat dihubungi Kompas.com di lokasi pengungsian gedung DPRD Kota Palu, Sabtu (29/9/2018).

Nining menambahkan bahwa kondisi korban meninggal dunia sangat memprihatinkan. Jenazah bercampur dengan puing-puing material yang berserakan. Sebagian jalan raya pun hancur akibat terjangan gelombang tsunami.***

Editor:hasan b
Sumber:okezone.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww