Nenek Ernawati Saksikan Rumahnya Hancur dan Hanyut Diterjang Galodo di Tanjung Sani

Nenek Ernawati Saksikan Rumahnya Hancur dan Hanyut Diterjang Galodo di Tanjung Sani
Nenek Ernawati. (kompas.com)
Senin, 25 November 2019 09:24 WIB
PADANG - Banjir bandang (galodo) menerjang Jorong Galapuang, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Rabu (20/11/2019) malam.

Sedikitnya, 12 rumah warga di Jorong Galapuang hancur akibat terjangan banjir disertai longsoran tanah tersebut. Salah satu diantaranya rumah milik Ernawati (61).

Dikutip dari kompas.com, nenek Ernawati menyaksikan rumah semi permanen yang dimilikinya beserta isi di dalamnya hancur dan hanyut diterjang galodo Rabu malam itu.

Sang nenek hanya bisa membawa satu tas dokumen dan pakaian yang melekat di tubuhnya.

Sementara rumah dan isinya berupa televisi, kulkas, serta semua perabotan tidak tersisa akibat longsor dan banjir bandang yang melanda daerah itu.

Ernawati menceritakan, pada Rabu itu, hujan turun sangat deras, tidak seperti biasanya, sejak sore hari.

Ernawati yang tinggal sendirian di rumahnya sudah memiliki firasat akan terjadi bencana.

Benar saja, usai shalat magrib, sekitar pukul 18.30 WIB, ia mendengar suara gemuruh dari atas bukit.

Bunyi batu beradu dan air bah turun dari atas bukit semakin mendekat menuju rumahnya.

''Saya mendengar bunyi gemuruh dari atas bukit. Bunyi batu beradu dan air bah semakin mendekat. Saya keluar dari rumah, kendati hujan sangat lebat,'' kata Ernawati bercerita kepada Kompas.com, Ahad (24/11/2019) di lokasi bencana.

Tiba di luar, dirinya melihat air bah beserta batu-batu sudah semakin dekat akan menghantam rumahnya.

Tetangga di sekitar rumahnya sudah berlarian menyelamatkan diri dengan menjauh dari rumah.

Namun, Ernawati kembali masuk ke rumah untuk mengambil tas yang berisi dokumen-dokumen yang dimilikinya.

''Setelah tas berisi dokumen itu saya dapati, saya langsung berlari keluar menjauh dari rumah. Sementara air bah dan bebatuan sudah semakin dekat,'' kata Ernawati.

Tidak berapa lama, terdengar batu dan air bah menghantam rumahnya.

Rumahnya hancur dan kemudian hanyut dibawa air bah.

''Saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika rumah saya hancur dan hanyut dibawa air bah. Untung saya cepat keluar rumah, kalau tidak, saya mungkin sudah mati,'' kata Ernawati dengan suara serak.

Setelah melihat rumahnya hancur dan hanyut dibawa air bah, Ernawati berlari ke tempat aman sampai longsor reda.

Sekarang dia tidak lagi memiliki rumah sebagai tempat berlindung dan beristirahat.

Ernawati mengaku dirinya terpaksa menumpang di rumah saudaranya, entah sampai kapan.

''Saya tidak tahu sampai kapan. Apakah rumah saya akan dibangun lagi atau tidak, entah lah,'' ujar Ernawati.

Bersyukur masih selamat

Ernawati mengatakan dirinya sangat bersyukur bisa selamat dari bencana tersebut. Sebab, terlambat sedikit saja, iamungkin bisa menjadi korban terjangan material longsor.

Ernawati juga bersyukur karena anggota keluarga lainnya saat kejadian tersebut tidak berada di rumah.

''Suami saya sudah tiada. Anak saya saat itu pergi berdagang. Sedangkan cucu dititipkan di rumah saudara. Alhamdulillah mereka tidak berada di rumah sehingga terhindar dari bahaya,'' kata Ernawati.

Selain belasan rumah, galodo di Jorong Galapuang juga menghancurkan satu masjid dan satu madrasah.

Longsor juga menyebabkan akses jalan lumpuh akibat tertutup material longsor sepanjang 100 meter dengan ketinggian 10 meter lebih.

Akses jalan baru bisa terbuka 48 jam kemudian, setelah tim dari BPBD, Satpol PP dan Damkar, kepolisian, tentara, tim relawan dan masyarakat bahu membahu membersihkan badan jalan.***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww