Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
Hukum
22 jam yang lalu
Jokowi Hadir di Sidang PN Jaktim, Bawa Ijazah Asli UGM Patahkan Tudingan Roy Suryo
2
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
KONI
16 jam yang lalu
Ketua Umum KONI Pusat Minta PB ABTI Satukan Indonesia Melalui Bola Tangan
3
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
Umum
19 jam yang lalu
Naskah UU Ketenagakerjaan Tak Jelas, Serikat Pekerja Peringatkan Ancaman Perselisihan Hubungan Industrial
4
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
Umum
19 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Terbaru, Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penyelamat Tenaga Kerja Nasional
5
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
KOI
16 jam yang lalu
NOC Indonesia Jadikan YOG Dakar 2026 Panggung Diplomasi Peluang Tuan Rumah Kualifikasi Olimpiade LA 2028
6
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Hukum
23 jam yang lalu
Iwan Bule Dukung Kapolri Suyudi Usut Tuntas Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Home  /  Berita  /  Badminton

Wakil Ketua MPR: Generasi Muda Harus Berpikir Orientasi Ke Depan

Wakil Ketua MPR: Generasi Muda Harus Berpikir Orientasi Ke Depan
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid. (foto: daniel)
Kamis, 18 Februari 2016 20:58 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat memberi kuliah umum di hadapan anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengatakan, manusia diturunkan ke bumi ditakdirkan sebagai khalifah. Tugas manusia sebagai Khalifah adalah memakmurkan bumi bukan malah menghancurkan, Kamis (18/02/2016) di Bekasi, Jawa Barat.

"Untuk memakmurkan bumi, manusia bisa melakukan dengan cara beribadah, yang dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk kemaslahatan ummat dan berorientasi ke masa depannya," jelas Hidayat Nur Wahid.

Sementara untuk memakmurkan bumi, menurut hidayat, maka manusia harus mewariskan sesuatu yang baik, tentunya harus dengan kerja keras dan tidak bisa hanya bekerja santai. "Yang kerja keras saja belum tentu berhasil apalagi yang kerja biasa-biasa saja," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Hidayat Nur Wahid mengharap agar semua mengedepankan akhlak dalam kehidupan. Dengan akhlak maka semua masalah menjadi jelas.

"Dengan menggunakan akhlak, sebagai contoh isu terbaru saat ini yaitu LGBT, maka kita tidak akan memberi ruang kepada mereka. Sebab Allah menciptakan makhluk dengan fitrah yang jelas," tukasnya.

Masalah LGBT ini menurut hidayat, bukan masalah diskriminasi, sebab diskriminasi itu ada batasnya. "Kita tak mungkin memberi ruang kepada pencopet dengan alasan hak asasi manusia. Bila pencopet, misalnya, dilegalkan maka tunggulah kehancuran Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, bila kita membingkai politik dengan akhlak maka kita mempunyai rujukan yang konkret. Indonesia menurut Hidayat Nur Wahid adalah realitas keterkaitan antara manusia yang menjadi warga negara dengan Tuhan yang Maha Esa. Dalam perdebatan bentuk negara dalam masa sebelum merdeka ada dua kelompok, yaitu kelompok kebangsaan dan Islam.

Ditegaskan Hidayat Nur Wahid, perdebatan antar dua kelompok itu di BPUPKI masing-masing ingin menonjolkan kepentingannya. "Meski demikian perdebatan yang terjadi sangat seru dan panas, tapi pendiri bangsa tidak ingin atau tak memikirkan ideologi bangsa dan negara dalam bentuk komunis atau ateis," terangnya.

Dalam kesepakatan ideologi Pancasila pada sidang BPUPKI maupun PPKI selalu disepakati adanya Sila I yang mengandung nilai Ketuhanan yang Mahaesa. ***

wwwwww