Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gus Jazil Dorong Kemandirian Santri lewat Pertanian Porang
Ekonomi
10 jam yang lalu
Gus Jazil Dorong Kemandirian Santri lewat Pertanian Porang
2
Tino-Mustamsikin Siap Bangkitkan Ekonomi Kendal Lewat Barista dan Industri Kopi
Peristiwa
11 jam yang lalu
Tino-Mustamsikin Siap Bangkitkan Ekonomi Kendal Lewat Barista dan Industri Kopi
3
PBFI Sumut Manjakan Atlet Binaraga Lewat Safari Road Show
Olahraga
23 jam yang lalu
PBFI Sumut Manjakan Atlet Binaraga Lewat Safari Road Show
4
Ikatan Pelajar Putri NU Diminta jaga Budaya Nusantara dari Rongrongan Drama Korea
MPR RI
3 jam yang lalu
Ikatan Pelajar Putri NU Diminta jaga Budaya Nusantara dari Rongrongan Drama Korea
5
Menginap di Hotel bersama Pacar, Mahasiswi Terjun dari Lantai 4
Peristiwa
22 jam yang lalu
Menginap di Hotel bersama Pacar, Mahasiswi Terjun dari Lantai 4
6
Jateng Jadi Biang Kerok Covid-19 di RI Meledak & Cetak Rekor
Kesehatan
3 jam yang lalu
Jateng Jadi Biang Kerok Covid-19 di RI Meledak & Cetak Rekor
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Terkesan Sembunyikan Cost Recovery Surfaktan, Mulyadi Marahi Presdir Chevron

Senin, 22 Februari 2016 20:02 WIB
Penulis: Syafri Ario
terkesan-sembunyikan-cost-recovery-surfaktan-mulyadi-marahi-presdir-chevronMulyadi
JAKARTA- Saat rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VII dengan SKK Migas dan KKKS, termasuk Chevron, Wakil Ketua Komisi VII, Mulyadi memarahi Presiden Direktur Chevron Pasifik Indonesia (CPI), Albert Simanjuntak, saat sesi tanya jawab berlangsung.

Mulyadi berang kepada Albert lantaran tidak menjawab pertanyaan krusial yang ditanyakannya terkait Surfaktan, bahan kimia hasil riset PT CPI yang biayanya masuk ke cost recovery meskipun hasilnya belum jelas.

"Tadi saya sudah katakan dari tadi saya jelaskan masalah surfaktan, tapi kenapa bapak tidak menjawabnya, ini saya curiga pengeluaran ini tidak benar," tegas Mulyadi dengan nada tinggi kepada Albert, Senin (22/2/2016).

Kemudian Albert Simanjuntak menjawab, "Perlu kami sampaikan, nama chemical yang kami gunakan, di lapangan proyeknya dilakukan secara bertahap, yang dilakukan awal tahun 2000 an, hanya untuk menguji chemical total $22 juta dollar, dan biaya tahap dua menghabiskan $157.8 juta," ujarnya.

Legislator asal Sumatera Barat ini sangat tidak setuju apabila biaya riset tersebut dibebankan ke negara.

"Karna ini memakai uang negara, seharusnya cost recovery itu tidak perlu karena, hasilnya pun belum jelas disaat harga minyak turun, jadi tidak ada yang perlu ditutup-tutupi," ujarnya ***

wwwwww