Sempena Hari Perempuan Internasional, KOHATI PB HMI Dukung Pembangunan Kualitas Generasi Sehat

Sempena Hari Perempuan Internasional, KOHATI PB HMI Dukung Pembangunan Kualitas Generasi Sehat
Ketua Umum KOHATI PB HMI, Farihatin. (net)
Selasa, 08 Maret 2016 13:05 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Hari ini merupakan hari yang membahagiakan bagi sebagian perempuan di dunia. Pasalnya tanggal 8 Maret 2016 ini bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Dalam peringatan tahun ini, mengangkat isu bersama “Pledge For Parity".

Dipilihnya tema tersebut, karena masih adanya persoalan kesejahteraan perempuan di ranah sosial, ekonomi, dan lini kehidupan lainnya yang belum terselesaikan. Sebab International Women Day ditasbihkan sebagai refleksi hari kebangkitan perempuan, yang diinisiasi sejak 87 tahun silam.

Berbagai gerakan civil society terfokus pada kepentingan kesejahteraan perempuan dunia pun dilaksanakan. Tak terkecuali Korps HMI-Wati (KOHATI) sebagai wadah komunitas muslimah berintegral dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), juga melakukan gerakan perempuan berlandaskan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an.

Berkaca pada histori "Malaise" (zaman meleset) yang mana krisis ekonomi Amerika Serikat di era 1930-an merupakan pemicu krisis ekonomi dunia. Zaman tersebut ditandai dengan banyak perusahaan yang bangkrut dan tingkat pengangguran meningkat sehingga berdampak pada kemiskinan.

Krisis tersebut juga dialami Indonesia sejak merdeka di era 1960-an, pergolakan politik nasional berpengaruh pada kondisi ekonomi bangsa, pun dialami kembali pada tahun 1997-an dengan krisis moneter yang berujung pada peningkatan kemiskinan.

Kemiskinan menjadi pemicu persoalan kehidupan manusia di segala sektor, tak terkecuali di ranah sosial. Sehingga, bermunculan persoalan masyarakat yang lain seperti konflik rumah tangga sebab kesulitan ekonomi yang mempengaruhi keharmonisam relasi keluarga dan berdampak pada pola asuh orangtua pada anak. Tak dapat dipungkiri, akhirnya berbagai bentuk patologi sosial pun terjadi.

Di tengah polemik bangsa dalam masyarakat, kesadaran perempuan untuk bangkit pun masih ada. Misalnya, beberapa organisasi perempuan menuntut kesamaan hak berpolitik juga berjuang agar perempuan terakomodir di segala sektor publik baik struktural pemerintahan, swasta, pembangunan dari segi ekonomi seperti mendirikan koperasi, dan pemberdayaan peremuan lainnya seperti pendampingan perempuan-perempuan marjinal agar mandiri secara ekonomi, tak terkecuali pendidikan anak khususnya anak perempuan.

KOHATI PB HMI juga melakukan hal yang sama di ranah kemahasiswaan dan kepemudaan. Yang mana menyokong dalam mempersiapkan kader-kader calon pemimpin perempuan hebat yang sehat jasmani dan mental.

"Perempuan yang sehat jasmani dan mental akan mampu melahirkan generasi sehat dan cerdas. KOHATI PB HMI berpandangan bahwa perempuan hebat dapat mendidik anak-anaknya sesuai dengan pola asuh yang ideal (bila beragama Islam maka sesuai dengan ajaran Rasulullah), sadar akan menjaga kesehatan reproduksinya, mandiri dengan bekerja sendiri, profesional dalam melakukan segala hal segi struktural maupun tidak," ungkap Ketua KOHATI PB HMI pada release yang diterima Legislatif.co, (GoNews Group).

Menurutnya, perempuan harus memiliki identitas yang jelas sebagai seorang muslimah (jika islam) yang mana segala tingkah lakunya bernafaskan nilai-nilai keislaman, dan intelektual (berwawasan luas).

"Dengan demikian, perempuan hebat akan melahirkan generasi sehat yang menjalani fitrah dan kodrat, serta mampu menjalankan fungsi dirinya dalam ranah masyarakat, menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat bagi umat tanpa melenceng dari ajaran agama dan norma-norma yang ada," tukasnya.

Indikator generasi sehat sebagian dapat dilihat melalui anak mendapatkan gizi dan pendidikan yang layak, lingkungan sosial yang mendidik, memiliki orientasi seksual yang jelas, bila terjadi ketidakjelasan identitas gender yang murni sejak lahir maka berhak mendapat pendampingan secara medis, psikologis, dan religi guna mempertegas identitas gendernya.

Sehingga, tidak akan terjadi ketimpangan sosial lagi. Sudah tentu menjadi tanggungjawab seluruh stakeholders yang ada untuk mendukung penuh pembangunan SDM perempuan guna mempersiapkan dan mencetak generasi sehat jasmani, rohani, dan mental. "Agar bangsa ini memiliki generasi sehat, maka perlu memprioritaskan pembangunan SDM perempuan lewat pembentukan karakter dan pengembangan pola pikir perempuan disesuaikan dengan nilai dan norma ajaran agama masing-masing. KOHATI mengawal penuh perkaderan baik anggota dan masyarakat, agar muslimah agar lebih berkarakter," jelasnya lagi.

Muslimah berkarakter ditilik dari memiliki sikap dan perilaku  amanah, shiddiq, fathonah, dan tabligh saat menjalankan peran sebagai pemimpin. Kedua, taat pada suami yang shalih dan sadar akan tanggungjawab menjadi istri sholehah. Ketiga, menjadikan aktivitas dirinya bernilai ibadah dan ikhlas. Keempat, mampu mendidik anak sesuai ajaran Rasulullah, mengajarkan aqidah ketauhidan dengan benar dan penuh kasih sayang. Kelima, mampu mengatur waktu. Keenam, selalu bermuhasabah diri dengan bertobat dan memperbaiki kekurangan diri.

Masyarakat perlu mengubah paradigma tentang perempuan, yang memandang perempuan berdasar kemampuannya bukan lagi latar belakang siapa dirinya. Maka ruang publik (sosial) tidak lagi menjadi domainnya laki-laki, tetapi perempuan juga memiliki peluang, akses dan kemampuan yang sama.

Dimensi kehidupan sosial kemasyarakatan seperti pendidikan, dunia usaha, birokrasi bahkan politik semakin diwarnai oleh kaum perempuan. Hal ini mempertegas bahwa transformasi sosial bagi perempuan sudah tidak bisa dibantah. Tentu hal itu dapat dicapai bila perempuan mendapat akses penuh untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dirinya tanpa hambatan dari lingkungannya. Selamat hari perempuan internasional, semoga dunia khususnya Indonesia memiliki generasi sehat. (rls)


       
        Loading...    
           
wwwwww