Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
17 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
14 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
3
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
12 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
4
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
11 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
12 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
19 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Home  /  Berita  /  Badminton

Tahun 2030 Riau Diprediksikan Mengalami Krisis Pangan, Berikut Penjelasannya

Senin, 01 Agustus 2016 14:22 WIB
Penulis: Safrizal
tahun-2030-riau-diprediksikan-mengalami-krisis-pangan-berikut-penjelasannyaPakar Lingkungan, DR Elviriadi SPi MSi
SELATPANJANG - Pakar Lingkungan DR Elviriadi SPi MSi memprediksikan kejadian buruk bakal menghampiri Provinsi Riau. Di tahun 2030, Provinsi Riau diperkirakan akan berada di ambang krisis pangan.

Demikian disampaikan Elviriadi saat berbincang-bincang dengan GoRiau, Senin (1/8/2016). Kata pakar lingkungan jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) itu, luasnya lahan di Provinsi Riau yang telah dialih fungsikan tanpa perencanaan matang dapat menyebabkan krisis pangan yang serius.

"Luas hutan dan areal pertanian kita sudah diganti dengan tanaman monokultur yang tidak mampu men-suply kebutuhan pangan bagi 4,3 juta penduduk propinsi ini. Padahal, potensi buah buah-buahan, sayuran, obat-obatan, banyak tersedia dalam biodiversitas hutan tropis bergambut di Riau," katanya kepada GoRiau.

Katanya lagi, Jatna salah seorang rekannya yang merupakan peneliti CI Conservasi Internasional (CI) menemukan sekitar 216 jenis buah-buahan di hutan Riau pada tahun 1990 lalu, yang blm diketahui masyarakat luas. Namun, lantaran negara tidak membuat perencanaan pembangunan berbasis knowledge dan riset, maka areal pertanian, perkebunan, HTI, sawit, perikanan darat saling tumpang tindih. Bahkan apa yang mau dicapai pada jangka panjang untuk swasembada pangan (beras, ikan, sayur, buah, red) tidak terencanakan.

Dipaparkan Elviriadi lagi, saat ini pemerintah disibukkan dgn politik kekuasaan. Sehingga, sumberdaya alam kita tidak kelola dan dimanfaatkan dengan visi yang kuat. Jadi kebijakan di sektor vital ini bebas, terbuka, fluktuatif, tidak terkontrol oleh Bappenas/ Bappeda. Maka yang paling acceseble (mudah mengakses) adalah kelas pengusaha yang berkepentingan dengan sumberdaya alam kita. Pemerintah ngikut saja, malah ada diberikan ke swasta hingga 100 tahun (SK Menhut 327/2009) untuk kelola sumberdaya alam secara monokultur.

"Mana hak masyarakat untuk mencukupi kebutuhan pangannya?," tanyanya.

Masih menurut Elviriadi, sementara di sisi lain, pertumbuhan penduduk, kebutuhan tanah pemukiman atau perumahan terus meninggi. Itu juga "haus" lahan, harus ditata space lahannya.

"Saya melihat, dengan tidak jelasnya apa yang mau dicapai, langkah dan strategi apa yang harus ditempuh, tahun apa kita akan jadi apa, serta visi pengelolaan SDA dan pangan kita yang nyaris tak terdengar, Riau akan krisis pangan, kira kira 15 tahun kedepan," ujar Elviriadi.

Dicontohkannya, ibarat lelaki bertubuh gempal apabila dia tidak mengubah pola makan, aktivitas fisik, maka bisa diprediksi berat badan orang tersebut pasti naik. Dia juga beresiko terkena diabetes, stroke, atau komplikasi penyakit. Dengan melihat lama masa izin konsesi (rata rata diatas 50 tahun) monokultur yang  tidak memperhatikan topografi tanah dan keanekaragaman hayati, tanpa perencanaan inter dan lintas sektoral, Ia khawatir air tanah akan mengering, Riau bakal menjadi gurun sahara pada tahun 2030 mendatang.

"Karena pupuk dan rekayasa bioteknologi tidak mempan lagi bila di atas 10 tahun dilakukan intensifikasi. Mau ekstensifikasi, lahan sudah habis. Kalau sudah begini, kita kebulou (lapar, red), Coy!," pungkas lelaki gampal ini mengakhiri wawancara. ***

Kategori:Ekonomi, Badminton
wwwwww