Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
10 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
8 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
4
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
Umum
8 jam yang lalu
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
5
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
9 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
6
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Nasional
12 jam yang lalu
Aturan Baru Mabes Polri Berlaku, Personel Resmi Dilarang Isap Vape
Home  /  Berita  /  Badminton

Cidera Menghambat Dewi, La Memo ke Perempat Final Dengan Catatan Waktu Tidak Maksimal 

Cidera Menghambat Dewi, La Memo ke Perempat Final Dengan Catatan Waktu Tidak Maksimal 
Sabtu, 06 Agustus 2016 21:56 WIB
Penulis: Hadi Wihardja
JAKARTA - Cabang rowing mencatat sejarah sejak keiikutertaannya di Olimpiade modern untuk Indonesia. Untuk pertama kali, cabang rowing mengirimkan pendayung dengan dua pedayung putra dan putri, dimana sebelumnya selalu tampil satu atlet, kadang hanya putri atau hanya putra.Bravo team dayung Indonesia, berkat pembinaan tiga dekade PB Podsi yang dinakodai Achmad Soetjipto.

Cabang rowing terus berjaya berkat kesuksesannya menjadi juara umum pada empat SEA Games terakhir. Kesuksesan ini semakin menambah keyakinan Indonesia bisa tampil optimal pada saat menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Bagaimana dengan Olimpiade Rio de Janeiro ? Berkat upaya PB PODSI serta Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) yang dibentuk Kemenpora telah lahir pedayung Single Sculls putra La Memo.

Pedayung berusia 21 tahun ini berpacu dengan 29 atlet lainnya di Copacabana Zone, Lagua Stadium, Brasil. Begitu juga pedayung Singgle Sculss Putri Dewi Yuliawati (19 tahun) yang bersaing dengan pedayung dari 29 negara untuk meperebutkan tempat terbaik.

Dalam perlombaan itu, La Memo berhadapan dengan para pendayung yang memiliki waktu terbaik menempuh 2000 meter antara 6 menit 35 detik sampai dengan 7 menit 05 detik. Namun, La Memo yang memiliki waktu terbaik 7 menit 04 detik yang dibuat pada Rowing Cup ketiga 2015 itu melangkah dengan baik.  

Meski tidak mencatat waktu terbaik, La Memo mampu menduduki peringkat ketiga dengan mencatat waktu 7 menit, 14,17 detik sekaligus memastikan tiket ke babak perempat final. Posisi pertama ditempati Alan Campbell (Inggris) dengan waktu 7:08,31 detik dan Stanislaus Scharbachenia (Belarusia) dengan waktu 7:11,49 detik.   

Memang pedayung tercepat saat ini masih dikuasai negara-negara Eropa.  Yakni, Mahe Drysdale (Selandia Baru)  dengan the best ferpormance tahun 2016 ini adalah 6 menit 37 detik di tengah usianya yang mendekati kepala 4, (38 tahun).

Kemudian, Ondrej Synek (Cekoslowakia) 34 tahun, yang selalu menempelnya di seri World Cup 2016 dengan catatan waktu terbaik 6 menit 51 detik. Dan,  Armandas Kelmelis (Lithuania) yang menjadi juara Yunior Eropa 2016 dengan catatan waktu 7 menit 08 detik. 

Ini merupakan tantangan bagi Memo untuk bisa memberkan yang terbaik mengingat keberhasilannya ke perempat final dengan mencapai wakru terbaiknya. Jika di perempat final, Memo berhasil mengimbangi Armada pada Heat dan SemiFinal maka kemungkinan masuk 12 besar Dunia bukan hal yang mustahil.

Nasib kurang beruntung memang dialami Dewi Yuliawati yang tampil setelah Memo. Dewi yang memiliki waktu terbaik 8 menit 02 detik hanya mampu menempati posisi ke enam dengan mencatat waktu 09:36,100 detik. Menurunnya catatan waktu Dewi itu akibat cidera punggungnya kambuh karena tingginya intensitas dalam perlombaan. Penulis: Ir Hadi Wihardja,  HPD Race One Satlak Prima, Olympian 1984 dan peraih 8 Emas SEA Games dan Perak Asia 1987

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Non Olympic, Olympic, Badminton
wwwwww