Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
12 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
11 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
6 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
6 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
5 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Sepakbola
5 jam yang lalu
Zlatko Runje Sukses Dampingi Persib Kalahkan Kalteng FC
Home  /  Berita  /  Badminton

Cerita Mukidi, Bukti Konten Berbasis Teks Mampu Bersaing dengan Foto dan Meme di Era Digital

Cerita Mukidi, Bukti Konten Berbasis Teks Mampu Bersaing dengan Foto dan Meme di Era Digital
Minggu, 28 Agustus 2016 15:09 WIB
JAKARTA - Cerita-Cerita Mukidi adalah konten berbasis teks yang mampu bersaing dengan konten seperti foto, meme, video pendek serta konten audi visual lainnya, yang memang jauh lebih cepat dicerna ketimbang tulisan. Mengapa?

Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi di Depok (28/08) menjelaskan, sepanjang 2012 hingga 2016, konten tulisan yang panjang-panjang ‘tersingkir’ oleh konten seperti foto, meme video pendek yang cepat dicerna. Konten yang paling cepat diproduksi adalah foto dan video kejadian, begitu ‘cekrek’, bisa langsung diupload di media sosial atau grup percakapan, bisa jadi viral bisa juga tidak. Tulisan termasuk konten yang sulit, butuh imajinasi tinggi dan gaya penyajian yang pas.

Namun, lanjut Hariqo, dengan menjadi viralnya cerita-cerita Mukidi di berbagai grup layanan pesan instan, media sosial, membuktikan bahwa konten tulisan mampu bersaing di era digital. Ini bukti bahwa masyarakat masih suka membaca tulisan yang panjang-panjang, ini kabar gembira dan motivasi bagi para penulis.

''Cerita Mukidi yang berbasis teks hadir ditengah dominasi foto, meme, video pendek. Selera masyarakat tidak berubah, konten yang paling disukai adalah yang lucu dan menghibur. Cerita Mukidi punya kekuatan di Mukidinya, banyak cerita Mukidi yang hits, sehingga jika ada cerita baru Mukidi bisa dianggap sama lucunya dengan cerita sebelumnya”, jelas Hariqo Wibawa Satria.

''Dari Pak Soetantyo Moechlas, (62 Th), penulis Cerita-Cerita Mukidi, kita dipesankan banyak hal; Pertama, konten tulisan akan tetap eksis di dunia digital, tergantung isi konten dan penyajiannya dan seberapa konsisten kita memproduksinya, Cerita Mukidi sudah lama diproduksi secara konsisten dan baru sekarang populer, jadi populernya Cerita Mukidi sebanding dengan kerja keras penulisnya. Kedua, dunia konten adalah milik siapa saja yang berani produksi, bukan dominasi anak muda, orang berusia 62 tahun seperti Pak Soetantyo bisa mengalahkan generasi muda yang masih jadi penikmat konten,'' tambah Hariqo yang juga Alumnus Pascasarjana Universitas Paramadina Jurusan Diplomasi ini.

Hariqo menambahkan, dalam banyak diskusi tentang media baru yang diadakan oleh Komunikonten, sering dikatakan bahwa generasi yang lahir tahun 90-an sudah kurang tertarik membaca konten-konten berisi tulisan yang panjang, mereka lebih tertarik pada konten sederhana yang cepat dicerna dan spontan membuat orang senyam senyum. Sekali lagi Cerita Mukidi membuktikan bahwa ungkapan itu tidak selalu benar.

Nah, pertanyaan selanjutnya menurut Hariqo adalah, apakah cerita-cerita Mukidi bisa diekspor sehingga menjadi instrumen diplomasi mengenalkan budaya Indonesia?, bisa saja, tinggal disesuaikan dengan selera humor penghuni bumi, diterjemahkan ke bahasa dunia. Bukan hal yang mustahil jika suatu hari nanti saat kita naik pesawat terbang. Tayangan-tayangan ''Just For laughs'' yang biasa kita tonton berganti dengan Cerita-Cerita Mukidi yang lucu dan sarat pesan. Cerita-Cerita Mukidi juga bisa divideokan bukan.

Nah sekarang pilihan ada pada kita, dengan fakta kecepatan akses internet, terjangkaunya harga telepon pintar, kian banyaknya aplikasi media sosial serta grup percakapan, telah memudahkan siapapun membuat, menyebar konten seperti meme, video, foto, infografis dan tulisan. Kini setiap orang bisa memilih, jadi sekadar penikmat konten, atau sekaligus produsen konten. (rls)

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:DKI Jakarta, PON, Badminton
wwwwww