Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ikut Beli Miras dan Mabuk Bersama, Gadis 15 Tahun Digilir 4 Pemuda di Tengah Sawah Hingga Pingsan
Peristiwa
17 jam yang lalu
Ikut Beli Miras dan Mabuk Bersama, Gadis 15 Tahun Digilir 4 Pemuda di Tengah Sawah Hingga Pingsan
2
Soal TC Pelatnas Tinju Olimpiade, Ballo: Kalau Tidak Uzbekhistan, Ya Ukraina
Olahraga
15 jam yang lalu
Soal TC Pelatnas Tinju Olimpiade, Ballo: Kalau Tidak Uzbekhistan, Ya Ukraina
3
Rusak Masjid Nurul Jamil, Seorang Pria Ditangkap Warga dan Diserahkan ke Polisi
Peristiwa
17 jam yang lalu
Rusak Masjid Nurul Jamil, Seorang Pria Ditangkap Warga dan Diserahkan ke Polisi
4
Sidang Perdana Jaksa Pinangki, Nama Burhanuddin dan Hatta Ali Muncul dalam Dakwaan
Nasional
18 jam yang lalu
Sidang Perdana Jaksa Pinangki, Nama Burhanuddin dan Hatta Ali Muncul dalam Dakwaan
5
Pemain Timnas Tak Boleh Santap Makanan Gorengan dan Pedas
Sepakbola
16 jam yang lalu
Pemain Timnas Tak Boleh Santap Makanan Gorengan dan Pedas
6
Gol Saltonya Terbaik, Widodo Terimakasih Kepada Netizen
GoNews Group
15 jam yang lalu
Gol Saltonya Terbaik, Widodo Terimakasih Kepada Netizen
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Masa Panen di Bireuen, Harga Gabah Petani Merosot

Masa Panen di Bireuen, Harga Gabah Petani Merosot
Petani di Kecamatan Jeumpa, Bireuen membersihkan padi usai panen, belakangan harga gabah kering kembali merosot, Kamis (6/10/2016). [Joniful Bahri]
Kamis, 06 Oktober 2016 17:02 WIB
Penulis: Joniful Bahri
BIREUEN - Memasuki masa panen padi di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Bireuen, harga jual gabah kering kembali merosot tajam. Merosotnya harga gabah diduga permainan tengkulak (agen), serta kurangnya kepedulian Badan Urusan Logistik (Bulog) dan dinas terkait.

Menurut sejumlah petani kepada GoAceh, Kamis (6/10/2016) mengaku, pascapanen raya di sejumlah kawasan kecamatan di Bireuen, harga gabah anjlok menjadi Rp5.100 hingga Rp5.200 per kilogram, sebelumnya harga gabah di tingkat petani sempat terjual Rp5.500 per kilogram.

“Saat sekarang ini harga beli gabah di tingkat petani sangat rendah, sementara harga beli beras cukup mahal, seharusnya Bulog dan Pemarintah harus segera mengavaluasi kondisi ini,” kata Tarmizi, petani di Kecamatan Jeumpa.

Menurut Tarmizi, merosotnya harga gabah kering belakangan ini akibat adanya permainan tengkulak yang turun ke gampong-gampong. “Belakangan, mau tidak mau, para petani terpaksa harus menjual harga gabah sesuai harga yang ditawarkan agen, karena harus menutupi serta membayar biaya yang dikeluarkan ketikan masa tanam,” katanya.

Nada yang sama juga dikatakan Junaidi, petani lainnya. Menurutnya belakangan Bulog setempat hingga saat ini belum mampu mengatasi keluhan petani, sehingga patani harus merelakan penjualan gabah yang murah.

“Petani selama ini mengantungkan hidup dari hasil panen, biaya sekolah anak-anak, belum lagi pengeluaran saat pengolahan tanah, perawatan masa tanam hingga ongkos tanam," keluhnya.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Ekonomi, GoNews Group

wwwwww