Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
15 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
16 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
12 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
10 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
10 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
8 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Home  /  Berita  /  Badminton

Masa Panen di Bireuen, Harga Gabah Petani Merosot

Masa Panen di Bireuen, Harga Gabah Petani Merosot
Petani di Kecamatan Jeumpa, Bireuen membersihkan padi usai panen, belakangan harga gabah kering kembali merosot, Kamis (6/10/2016). [Joniful Bahri]
Kamis, 06 Oktober 2016 17:02 WIB
Penulis: Joniful Bahri
BIREUEN - Memasuki masa panen padi di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Bireuen, harga jual gabah kering kembali merosot tajam. Merosotnya harga gabah diduga permainan tengkulak (agen), serta kurangnya kepedulian Badan Urusan Logistik (Bulog) dan dinas terkait.

Menurut sejumlah petani kepada GoAceh, Kamis (6/10/2016) mengaku, pascapanen raya di sejumlah kawasan kecamatan di Bireuen, harga gabah anjlok menjadi Rp5.100 hingga Rp5.200 per kilogram, sebelumnya harga gabah di tingkat petani sempat terjual Rp5.500 per kilogram.

“Saat sekarang ini harga beli gabah di tingkat petani sangat rendah, sementara harga beli beras cukup mahal, seharusnya Bulog dan Pemarintah harus segera mengavaluasi kondisi ini,” kata Tarmizi, petani di Kecamatan Jeumpa.

Menurut Tarmizi, merosotnya harga gabah kering belakangan ini akibat adanya permainan tengkulak yang turun ke gampong-gampong. “Belakangan, mau tidak mau, para petani terpaksa harus menjual harga gabah sesuai harga yang ditawarkan agen, karena harus menutupi serta membayar biaya yang dikeluarkan ketikan masa tanam,” katanya.

Nada yang sama juga dikatakan Junaidi, petani lainnya. Menurutnya belakangan Bulog setempat hingga saat ini belum mampu mengatasi keluhan petani, sehingga patani harus merelakan penjualan gabah yang murah.

“Petani selama ini mengantungkan hidup dari hasil panen, biaya sekolah anak-anak, belum lagi pengeluaran saat pengolahan tanah, perawatan masa tanam hingga ongkos tanam," keluhnya.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Ekonomi, Badminton
wwwwww