Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
15 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
Olympic
9 jam yang lalu
Dinov dan Michelle Pimpin Parade Tim Indonesia di Pembukaan Dakar 2026
3
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
14 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
4
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
9 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
5
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa 'Geruduk' Imigrasi Jakbar
Umum
9 jam yang lalu
Bikin Rame CFD Sudirman, Massa Geruduk Imigrasi Jakbar
6
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
9 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Home  /  Berita  /  Badminton

Dukung Keputusan Kemenpora, Firmansyah: PON Remaja Akan Beratkan APBD

Dukung Keputusan Kemenpora, Firmansyah: PON Remaja Akan Beratkan APBD
Kadispora DKI, Firmnasyah. (istimewa)
Minggu, 16 Oktober 2016 17:11 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Dinas Olahraga dan pemuda (Disorda) DKI Jakarta mendukung rencana Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) membatalkan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja yang tahun pelaksanaannya bersamaan dengan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Jawa Tengah 2017.

Alasannya, peserta PON Remaja itu bukan hanya didominasi peserta POPNAS tetapi memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Disorda DKI Jakarta mendukung keputusan Kemenpora yang akan membatalkan PON Remaja 2017 dengan alasan efisiensi anggaran APBN. Sebab, pelaksanaan PON Remaja bukan hanya membebani APBN tetapi beban APBD juga akan bertambah. Saya bisa merasakan beban APBD Jateng akan semakin besar karena harus melaksanakan PON Remaja dan juga POPNAS," kata Kepala Disorda DKI Jakarta, Firmansyah kepada GoNews.co di Jakarta, Sabtu (16/10/2016).

Selain beban APBD, kata Firmansyah, PON Remaja akan memberatkan atlet mengingat pesertanya juga ikut POPNAS. "Peserta PON Remaja itu sama dengan peserta POPNAS. Rata-rata mereka yang tampil adalah atlet yang berada di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) dan Sekolah Kejuruan Olahraga (SKO) Jadi, wajar saja Kemenpora akan membatalkan PON Remaja. Kasihan kan atlit-atlit muda potensial harus tampil pada dua event tersebut dalam tahun yang sama," katanya.

Berbicara mengenai alasan sasaran Youth Asian Games (YAG) dan Youth Olimpic Games (YOG), kata Firmansyah, hal itu tidak bisa menjadi patokan. Sebab, POPNAS juga telah melahirkan atlit yang diterjunkan pada AYG dan Y0G.

"Peserta YAG dan YOG itu kan melalui kualifikasi. Alangkah baiknya, jika peran induk-induk organisasi lebih di kedepankan dalam memperbanyak event kejurnas. Seperti kejurnas junior, senior dan kejurnas antarklub. Semakin banyak kejuaraan tingkat nasional yang digelar maka akan memunculkan atlit-atlit berkualitas," katanya.

Sekadar gambaran, POPNAS yang dimulai sejak tahun 1989 adalah rangkaian dari sistem kompetisi multi event yang menjadi kegiatan prioritas di Kemenpora dan Dinas yang mengurus olahraga di daerah. Keberadaan Popnas yang mempertandingkan cabang olahraga Olimpiade berkaitan erat dengan pembinaan yang dilakukan di PPLP/SKO termasuk SKO Ragunan.

Jenjang pembinaan yang dilakukan mulai dari klub-klub olahraga junior dan masyarakat mulai dari tingkat Kabupaten/Kota dan Pemerintah Daerah serta PPLP/SKO, termasuk SKO Ragunan mulai tingkat provinsi hingga internasional.

Sementara itu, PON Remaja dilahirkan saat KONI/KOI dipimpin Tita Subowo. Semula PON Remaja mengadopsi konsep Youth Olympic dengan tujuan agar pembinaan cabang olahraga Olimpiade dan misi pengenalan nilai-nilai Olympic Movement dapat dipahami oleh atlit-atlit muda berbakat. Yakni, Olimpysm as universal velues, Olympic and environment, Friendship-Respect-Excellence (kemenangan adalah tujuan akhir).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Olympic Academy yang dilakukan setiap atlet selesai kompetisi. Dengan perubahan tahun penyelenggaraan maka orientasi PON Remaja kemudian bergeser ke arena seleksi untuk Youth Olympic. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Non Olympic, Voli, PON, Badminton
wwwwww