Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
8 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
10 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
4
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
5 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
5
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
6 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
6
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Umum
10 jam yang lalu
Wapres Gibran Rakabuming Siap Buka Dokumen Pendidikan di PTUN, Tolak Gugatan Dicabut
Home  /  Berita  /  Badminton

Membendung Gerakan Pengkafiran di Dunia Islam

Membendung Gerakan Pengkafiran di Dunia Islam
Multaqo Nasional IV 2017. (Istimewa)
Kamis, 19 Oktober 2017 17:12 WIB
Penulis: Mujahidin Nur
MULTAQA Nasional IV yang bertempat di Gedung Islamic Centre NTB, Rabu-Kamis (18-19 Oktober 2017) dihadiri oleh ratusan Alumni Al Azhar yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia dan tak kurang dari 40 delegasi dari berbagai penjuru dunia.

Beberapa delegasi Al Azhar yang hadir diantaranya: Muhammad Abdul Fadhil Al Qoushi ( Wakil Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Internasional). Prof Dr Muhyidin Afifi ( Sekjen Pusat Riset Al Azhar University), Prof Dr Abas Syuman ( Wakil Rektor Al Azhar University Kairo), Prof Dr Moh Abdul Aziz Almishrawy ( Rektor Al Azhar) TGB Zaenul Majdi ( Gubernur NTB, Ketua IAIA), Prof Dr Quraish Sihab, sesepuh dan mantan ketua IAIA cabang Indonesia dan lain-lain.

Multaqa IV Alumni Al Azhar cabang Indonesia kali ini menjadi istimewa karena mengusung tema "Moderatisme Islam, Dimensi dan Orientasi".

Dalam kegiatan ini ada enam poin penting menurut pandangan saya.

1. Fenomena gerakan takfiriyah ( pengkafiran) dan banyaknya penganut ideologi takfiriyah ( takfiriyun) menjadi fitnah dan musibah yang belakangan bak sunami merusak nilai, cara hidup serta agama dan umat Islam di berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia.

2. Di Indonesia sendiri paham takfiriyah masif diajarkan oleh kelompok-kelompok radikal yang bergabung dalam organisasi yang mereka namakan JAD ( Jamaah Anshoru Daulah) atau pendukung Islamic State melalui kajian yang mereka lakukan dalam pertemuan-pertemuan sel, penerjemahan buku, propaganda, berita atau pernyataan tokoh-tokoh radikal, pembuatan buletin, peluncuran situs di media maya, media sosial dan lain-lain sehingga ideologi takfiriyah secara evolutif masuk ke dalam frame pemikiran umat utamanya mereka yang awam dalam masalah agama.

3. Untuk membendung ideologi tersebut Al Azhar dan forum alumni Al Azhar cabang Indonesia menawarkan tiga solusi untuk membendung masalah ini. Yaitu dengan memberikan bimbingan kepada umat ( taujih) pada ajaran agama yang moderat (benar) sesuai ajaran rasulullah, kemudian memberikan pencerahan pemikiran keagamaan kepada umat (tanwir) agar tidak bergabung dengan ideologi radikal dan ketiga pendekatan ( taqrib) yang lembut dan humanis pada mereka yang sudah menganut ideologi radikal.

4. Membendung radikalisme tentu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Karena ideologi radikal biasanya diiringi dengan fanatisme buta dan menutup diri dari kelompok atau pemikiran yang berbeda dengan mereka.

Karenanya, konsep deradikalisasi hendaklah dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan kajian yang strategis, kontinyu dan terarah agar pembendungan ideologi takfiriyah bisa efektif dilakukan.

5. Disamping dibutuhkan usaha yang masif dan kontinyu untuk mempromosikan Islam moderat melalui berbagai media dakwah moderen seperti youtube, instagram, Path dan lain lain.

6. Internet atau dunia maya adalah ruang paling efektif untuk menyebarkan ajaran radikalisme. Karenanya radikalisasi melalui internet ini harus dihentikan dan diganti dengan penguatan ajaran Islam moderat agar bisa menutup ruang radikalisme sehingga mereka tidak bisa berkembang dan layu bak bunga di musim kemarau. Penulis: Mujahidin Nur, Direktur The Islah Centre

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:DKI Jakarta, Umum, Olympic, PON, Badminton
wwwwww