Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
11 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
11 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
12 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
13 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
5
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
13 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
6
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Metropolitan
19 jam yang lalu
Awan Tebal Menghampiri Jakarta, BMKG Prediksi Hujan Turun pada Hari Ini
Home  /  Berita  /  Badminton

Sesalkan Aksi Teror Kepada Ulama, HNW: Padahal Ulama Punya Peran Besar Pada Indonesia

Sesalkan Aksi Teror Kepada Ulama, HNW: Padahal Ulama Punya Peran Besar Pada Indonesia
Wakil ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid. (istimewa)
Sabtu, 17 Februari 2018 21:51 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Saat memberi Sosialisasi Empat Pilar pada warga Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu, (17/2/2018), Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyesalkan kejadian-kejadian yang menimpa ulama, ustad, dan aktivitas masjid serta musholla beberapa hari terakhir ini.

Ia menuturkan, bahwa Brigade Persis dibunuh, masjid dirusak, musholla diserang, ada remaja masjid diteror dengan pisau.

"Ini ada juga upaya mengatur isi ceramah di masjid dan musholla oleh Bawaslu, saya merasa miris," ujar HNW di hadapan ratusan peserta sosialisasi.

Disesalkan lagi, mereka tidak mendapat empati dan simpati malah para ulama dan ummat Islam dituduh intoleran, radikal, dan terroris.

Tuduhan itu menurut HNW selain salah kaprah juga mengingkari fakta sejarah yang ada.

"Padahal ulama dan aktivis ormas serta partai Islam mempunyai peran yang besar dalam menghadirkan Pancasila, menyelamatkan NKRI, dan mengisi kemerdekaan," ujar HNW.

Dipaparkannya, ketika Pancasila 22 Juni 1945 disepakati, ada pihak yang merasa keberatan dengan Sila I. Menanggapi tuntutan tersebut tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Panitia 9 yang berasal dari Muhammadiyah, NU, Syarekat Islam, dan kelompok Islam lainnya rela menghapus tujuh kata dalam Sila I Pancasila 22 Juni 2018.

"Sila I Pancasila sekarang masih menjelaskan ketauhidan agama Islam," paparnya.

"Tokoh Islam di Panitia 9 mendahulukan kepentingan bangsa," tambahnya.

Untuk itu, HNW mengajak para peserta, membayangkan bagaimana bila kemauan mereka ditolak oleh para ulama. "Jadi di sini menunjukan ulama kita sangat toleran," tegasnya.

Lebih lanjut HNW menceritakan, Indonesia sejak tahun 1946, karena ditekan oleh Belanda dengan berbagai cara membuat bangsa ini bentuk negaranya tidak lagi NKRI namun menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

Hal demikian akhirnya disadari oleh politisi partai Islam, Masyumi, Muhammad Natsir di tahun 1950. Pada 13 April 1950, Natsir menyatakan Mosi Integral. Dalam mosi itu Natsir menyatakan RIS tidak sesuai dengan cita-cita 17 Agustus 1945.

Keinginan untuk kembali ke NKRI oleh Natsir lewat Mosi Integral itu didukung oleh Soekarno, Hatta, dan semua politisi. "Dari mosi integral tersebut akhirnya Indonesia  kembali ke NKRI. Dari sinilah tokoh Masyumi, partai Islam, berhasil menyelamatkan Indonesia," tegasnya.

Dari paparan di atas, HNW menyebut tak mungkin saat ini ulama anti-NKRI karena pendahulunya adalah penyelamat NKRI. "Ulama menyelamatkan NKRI," paparnya. ***

wwwwww