Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
22 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
18 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
19 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
15 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
15 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
13 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  Badminton

DPR: Amerika dan Inggris Ingin Belajar Penanganan Terorisme ke Indonesia

DPR: Amerika dan Inggris Ingin Belajar Penanganan Terorisme ke Indonesia
Ilustrasi Terorisme. (Istimewa)
Kamis, 05 April 2018 15:51 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris ternyata ingin belajar kepada Indonesia bagaimana menangani terorisme. Kedua negara besar itu mengapresasi cara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencegah dan menindak terorisme di Tanah Air.

Demikian diungkap Anggota Komisi III DPR RI Muhammad Syafi’i saat mengikuti rapat dengar pendapat Komisi III DPR dengan Kepala BNPT Suhardi Alius di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (5/4/2018). Di Amerika dan Inggris hanya ada penindakan dalam memerangi terorisme. Itu tak menyelesaikan akar masalah radikalisme yang memicu terorisme.

"Ketika kita ke Amerika dan Inggris, mereka mengapresasi cara Indonesia menanggulangi terorisme. Mereka ingin belajar ke Indonesia, karena mereka tahunya tembak saja untuk perangi terorisme," imbuh Romo, sapaan akrab Muhammad Syafi’i.

Ia juga mengemukakan bahwa konstruksi RUU tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang kini sedang dibahas DPR memiliki tiga spirit, yaitu penegakan hukum, penghormatan HAM, dan pemberantasan terorisme.

Dengan tiga spirit itu, sambung Romo, konstruksinya melebihi apa yang diharapkan pemerintah. Bila dulu hanya menindak dengan kekerasan senjata, kini lebih humanis dengan melakukan pendekatan kepada para teroris dan keluarganya. Bahkan, korban terorisme bisa dipertemukan dengan para mantan terorisme.

"Kalau dulu melulu soal penindakan, sekarang menjadi pencegahan, penindakan, dan pemulihan korban," kata politisi Gerindra ini.

Romo mengapresiasi semua program dan capaian BNPT. Bahkan, ia sempat mengikuti program BNPT berupa kampanye kontra terorisme ke daerah-daerah untuk melihat dari dekat bagaimana BNPT menanggulangi terorisme sesuai konstruksi yang digariskan dalam RUU yang sedang dibahas.

"Menurut saya apa yang dilakukan BNPT membutuhkan back up pendanaan yang lebih dari apa yang diterima BNPT sekarang. Kita perlu memberikan support kalau BNPT mau berkomunikasi dengan Komisi III untuk anggaran ke depan. Penanganan terorisme sangat penting, karena sudah menjadi perhatian dunia. Apalagi Amerika dan Inggris akan belajar ke Indonesia," tutup Romo.

wwwwww