Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Viral Ustaz Abdul Somad Dikawal TNI saat Ceramah di Lampung
Peristiwa
13 jam yang lalu
Viral Ustaz Abdul Somad Dikawal TNI saat Ceramah di Lampung
2
Gus Jazil: Empat Pilar MPR Bukan Soal Pemahaman Tapi Praktik Sehari-hari
MPR RI
11 jam yang lalu
Gus Jazil: Empat Pilar MPR Bukan Soal Pemahaman Tapi Praktik Sehari-hari
3
Pengamat Bilang, Sejak Dipimpin Luhut, Corona Bukan Mereda Malah Menggila
Kesehatan
11 jam yang lalu
Pengamat Bilang, Sejak Dipimpin Luhut, Corona Bukan Mereda Malah Menggila
4
Aep Pertahankan Gelar Dengan Kemenangan KO
Olahraga
8 jam yang lalu
Aep Pertahankan Gelar Dengan Kemenangan KO
5
PSS Hadapi Persik Kediri Jadi Laga Pembuka
Sepakbola
9 jam yang lalu
PSS Hadapi Persik Kediri Jadi Laga Pembuka
6
Nazaruddin Dek Gam Berharap Persiraja Berikan Yang Terbaik
Sepakbola
8 jam yang lalu
Nazaruddin Dek Gam Berharap Persiraja Berikan Yang Terbaik
Home  /  Berita  /  Riau

Populasi Harimau Sumatera Ditaksir Tinggal 400 Ekor, Dirjen KSDAE KLHK: Mereka Top Predaktor

Populasi Harimau Sumatera Ditaksir Tinggal 400 Ekor, Dirjen KSDAE KLHK: Mereka Top Predaktor
Ilustrasi. (Internet)
Sabtu, 21 April 2018 16:56 WIB
Penulis: Ratna Sari Dewi
PEKANBARU - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno mengatakan, bahwa populasi Harimau Sumatera diperkirakan tinggal sekitar 400 ekor.

Untuk saat ini, satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya tersebut, paling banyak ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

"Dari 400 ekor itu tersebar di Gunung Leuser hingga Kerumutan, Rimbang Baling, Bukit Tiga Puluh sampai ke Lampung," ungkap Wiratno di Kantor BKSDA Provinsi Riau, Jalan HR Soebrantas Pekanbaru, Sabtu (21/4/2018).

Ia pun mengimbau masyarakat untuk menjaga kesimbangan alam dan habitat para satwa liar tersebut. Salah satunya, mengenai kecukupan pakan dalam rantai makanan Harimau Sumatera yang merupakan predator puncak ini.

"Harimau ini top predator, harus ada siklus rantai makanannya. Kalau babi di hutan banyak diburu, harimau bisa kekurangan pakan. Ini juga berpengaruh," ujarnya.

Terakhir, Wiratno mengingatkan, bahwa segala jenis satwa liar yang ada di alam ini tidak akan mengganggu manusia selama tidak diganggu habitatnya.

"Mereka (satwa liar) tidak akan menggangu manusia jika tidak diganggu keluarganya, habitatnya dan rantai makanannya," tandasnya. ***


wwwwww