Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
16 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
11 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
22 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
15 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
12 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
15 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Badminton

Lemkaji MPR Undang Sultan Hamengkubuwono X Bahas Pembudayaan Pancasila

Lemkaji MPR Undang Sultan Hamengkubuwono X Bahas Pembudayaan Pancasila
Senin, 14 Mei 2018 16:48 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Lembaga Pengkajian MPR (Lemkaji) akan mengadakan Saraserahan Nasional Kebudayaan dengan tema "Kebudayaan Pancasila sebagai Peradaban Indonesia".

Menurut Ketua Lemkaji, Rully Chairul Azwar, acara yang diselenggarakan di Gedung Nusantara V, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, itu akan menghadirkan pembicara Sultan Hamengkubuwono X, Frans Magnis Suseno, Zamawi Imron, Acil Bimbo, Nyoman Nuarta, Abdul Hadi, dan budayawan lainnya.

Dalam konferensi press, Senin (14/5/2018), Rully Chairul Azwar mengatakan, Indonesia memiliki Pancasila yang secara 'genuine' nilai-nilainya digali oleh para pendiri bangsa.

Dari Pancasila, menurut Rully Chairul Azwar, bangsa kita memiliki modal awal pembangunan peradaban karena Pancasila adalah ideologi, falsafah dasar negara, dan jati diri bangsa.

"Selain banyak budaya dan kearifan lokal yang jika dihayati dengan baik, bisa memberi kontribusi positif bagi pembangunan peradaban bangsa," ujar Rully Chairul Azwar.

Rully Chairul Azwar menyayangkan setelah 72 tahun Indonesia berdasarkan Pancasila, nilai-nilai dasar yang ada tidak mewarnai perilaku elit dan sebagaian masyarakat. Budaya Pancasila disebut belum menjadi perilaku untuk membentuk kepribadian.

Sikap dan perilaku politik serta kebijakan pembangunan malah dibentuk oleh pemikiran pragmatis jangka pendek. "Pemecahan masalah yang ada tidak berlandaskan pada nilai-nilai dasar Pancasila," ujar pria asal Bengkulu itu.

Akibat yang demikian, solusi yang dihasilkan menjadi parsial dan tidak membentuk sistrem dan budaya Pancasila.

Rully Chairul Azwar mengingatkan, Pancasila pernah digagas untuk menghasilkan bangsa yang berdikari yang dielaborasi oleh Bung Karno menjadi Tri Sakti. Menjadikan Pancasila sebagai basis nilai untuk membangun bangsa yang maju menjadi penting karena kaitan kebudayaan dengan pembangunan peradaban tidak perlu diragukan.

Bagi Rully Chairul Azwar, peradaban maju dunia selalu dikaitkan dengan nilai budaya yang dianut masyarakat.

Tidak merasuknya nilai Pancasila dalam perilaku elit dan sebagaian masyarakat, menurut Rully Chairul Azwar, karena disebabkan merebaknya kultur munafik di mana perkataaan tidak sinkron dengan perbuatan. "Banyak aturan tetapi tidak bisa dilaksanakan karena penegakan hukum yang lemah," paparnya.

"Juga maraknya perilaku koruptif dan minimnya keteladanan dari kalangan pemimpin," tambahnya.

Dari sinilah maka Lemkaji mencari jalan keluar dengan menggagas Gerakan Keteladanan Nasional pembudayaan nilai-nilai Pancasila. Untuk itu menurut Rully Chairul Azwar, Lemkaji mendiskusikan dan mencari masalah yang ada dengan menggelar sarasehan nasional kebudayaan.***

wwwwww