Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
15 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
14 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
4
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
8 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
5
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
8 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
6
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
8 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Home  /  Berita  /  Badminton

BBM di Sumbar Naik Rp200 per Liter, Pemprov Ngaku Tak Bebani Rakyat Miskin

BBM di Sumbar Naik Rp200 per Liter, Pemprov Ngaku Tak Bebani Rakyat Miskin
ilustrasi
Rabu, 18 Juli 2018 08:25 WIB
PADANG - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mulai menerapkan Peraturan Daerah (Perda) terkait kenaikan besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang semula hanya 5 persen menjadi 7,5 persen, sejak Senin (16/7) lalu.

Imbasnya, Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi jenis Pertalite dan Dexlite untuk wilayah pemasaran Sumbar ikutan naik sebesar Rp 200 /liter. Pertalite yang semula dijual Rp 7.800, naik menjadi Rp 8.000/liter. Sedangkan Dexlite dari Rp 9.000 menjadi Rp 9.200/liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito mengatakan, penyesuaian harga hanya terjadi di Provinsi Sumbar. Sedangkan di wilayah lain tidak terjadi perubahan harga.

Menurutnya, penyesuaian harga karena kenaikan PBBKB untuk Bahan Bakar Khusus (BBK) di Sumbar menjadi kewenangan Pemda setempat. "BBK jenis lain di wilayah Sumbar juga akan terdampak dan sejauh ini dalam proses review," kata Adiatma Sardjito pada sejumlah wartawan, Selasa (17/7).

Manager Communication and CSR Pertamina MOR I, Rudi Ariffianto mengatakan, PBBKB adalah salah satu faktor pembentuk harga jual dari BBM, termasuk BBK. Dengan kata lain, komponen pajak yang berkaitan dengan harga jual BBK adalah PPN dan PBBKB.

PPN yang ditetapkan Pemerintah pusat adalah 10 persen, sedangkan PBBKB ditetapkan oleh masing-masing Pemda bervariasi, antara 5 persen; 7,5 persen dan ada juga yang 10 persen. "Sumbar baru saja menaikkan PBBKB dari 5 persen menjadi 7,5 persen," katanya seperti dilansir dari JawaPos.com.

Sementara itu, Kepala Badan Keuangan Daerah Sumbar, Zainuddin menegaskan, kenaikan PBBKB bukan semata-mata untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan kata lain, tambahan PAD yang didapat dari kenaikan PBBKB nantinya, akan diperuntukkan untuk pembangunan daerah.

Zainudin memandang, kenaikan PBBKB sebesar 2,5 persen masih dambang kewajaran. Serta, diyakiji tidak akan terlalu membebani masyarakat miskin. Sebab, harga BBM subsidi tidak ikutan naik.

"Ini hanya penyesuaian dari UU Perpajakan yang memberi batas hingga 10 persen dan Pemprov baru mengenakan PBBKB 7,5 persen," kata Zainuddin kepada sejumlah wartawan di Padang. ***

Editor:Arie RF
Sumber:JawaPos.com
Kategori:Badminton, PON, Ekonomi, Sumatera Barat
wwwwww