Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pernah Diramal Mbak You, Gunung Semeru Hari Ini Meletus, Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 KM
Peristiwa
21 jam yang lalu
Pernah Diramal Mbak You, Gunung Semeru Hari Ini Meletus, Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 KM
2
Tanpa Atribut, FPI Buka Posko Dapur Umum dan Bantu Evakuasi Korban Banjir di Kalsel
Peristiwa
20 jam yang lalu
Tanpa Atribut, FPI Buka Posko Dapur Umum dan Bantu Evakuasi Korban Banjir di Kalsel
3
Bicara Soal Kalah Atau Menang, Agung Firman: Enjoy Saja
Olahraga
23 jam yang lalu
Bicara Soal Kalah Atau Menang, Agung Firman: Enjoy Saja
4
Lampung Diguncang Gempa 5,4 SR, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Peristiwa
20 jam yang lalu
Lampung Diguncang Gempa 5,4 SR, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
5
Praveen/Melati dan Greysia/Apriyani ke Final
Olahraga
23 jam yang lalu
Praveen/Melati dan Greysia/Apriyani ke Final
6
Hujan Deras, Kota Manado Direndam Banjir
Peristiwa
20 jam yang lalu
Hujan Deras, Kota Manado Direndam Banjir
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Ketua Fraksi Gerindra MPR: Oposisi Harusnya Jadi Teman Berdemokrasi, Bukan Musuh

Ketua Fraksi Gerindra MPR: Oposisi Harusnya Jadi Teman Berdemokrasi, Bukan Musuh
Diskusi Pembukaan Press Gatering MPR di Yogyakarta. (GoNews.co)
Sabtu, 20 Oktober 2018 02:40 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
YOGYAKARTA - Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) meminta pemerintah jadikan oposisi sebagai teman berdemokrasi, tidak dianggap sebagai musuh berkompetisi.

Ketua Fraksi Gerindra MPR Fary Djemy Francis mengatakan, demokrasi adalah cara paling tepat dalam menjalankan roda bernegara.

Menurutnya, kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat. "Namun ironisnya terkadang demokrasi saat ini malah melahirkan beragam persoalan yang justeru bikin perpecahan," ujarnya saat menjadi narasumber Fary Djemy dalam diskusi Press Gathering Pimpinan MPR RI Bertajuk Konsolidasi Nasional Menuju Pemilu 2019 di Yogyakarta, Jumat (19/10/2018) malam.

Ia mencontohkan, seperti konflik horizontal, kampanye Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA), berita hoaks, fitnah, politik uang, dugaan keberpihakan penyelenggara dan lain sebagainya.

Dia melanjutkan, perbedaan dan perdebatan adalah hal biasa dalam demokrasi.

Sebab lanjut dia, Bangsa Indonesia pun bisa besar karena perdebatan panjang para founding father. Namun perdebatan itu dilakukan bukan untuk menghancurkan, tetapi dengan semangat saling menguatkan.

Karena itu sambung dia, pemerintah seharusnya berterima kasih kepada oposisi karena di saat pemerintah salah jalan, pihak oposisi lah yang meluruskan.

"Jangan anggap oposisi sebagai musuh berkompetisi, tetapi jadikan oposisi sebagai teman berdemokrasi," tandasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, Negara Timur Tengah yang memiliki suku dan budaya nyaris sama kerap terlibat pertikaian dalam perbedaan. Sementara di Indonesia yang memiliki suku dan budaya bermacam-macam, kata dia, tetap bisa bersama-sama tanpa perpecahan.

"Inilah potret salah satu hikmah perbedaan," pungkasnya.***

wwwwww