Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
21 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
2
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
21 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
3
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
20 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
4
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
21 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
5
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
Sepakbola
18 jam yang lalu
Kalahkan Jeon Hyeok Jin, Ginting Melaju ke Babak 16 Besar
6
‎Sarana Jaya Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perusahaan
Ekonomi
21 jam yang lalu
‎Sarana Jaya Gandeng BPKP Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perusahaan
Home  /  Berita  /  Badminton

Produksi Beras Surplus, Buwas: Belum Perlu Impor Lagi

Produksi Beras Surplus, Buwas: Belum Perlu Impor Lagi
Kepala Bulog, Budi Waseso. (istimewa)
Rabu, 31 Oktober 2018 00:17 WIB
JAKARTA - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menegaskan bahwa saat ini stok beras masih aman. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa produksi beras surplus 2,85 juta ton.

Cadangan tersebut dianggap masih cukup hingga akhir tahun. Dengan begitu, Bulog menganggap saat ini belum perlu dilakukan impor beras.

Saat ini, Bulog memiliki stok 2,4 juta ton. Dengan stok yang cukup besar, kata Budi Waseso, Bulog mampu menjaga tiga pilar ketahanan pangan nasional, yakni pilar ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi.

"Hal ini menandakan kuatnya stok negeri ini," kata Budi Waseso dalam keterangan tertulis, Selasa (30/10/2018).

Gudang yang ada ternyata tak mampu menampung seluruh stok beras Bulog. OLeh karena itu, mereka harus menyewa gudang tambahan, baik gudang swasta maupun TNI. Hal ini agar beras tersebut terjaga dengan baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.

Di sisi lain, Bulog harus menjaga stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada posisi 1-1,5 juta ton yang tersebar di gudang-gudang Bulog seluruh Indonesia. Budi Waseso mengatakan, stok tersebut siap disalurkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan pemerintah untuk bencana alam maupun intervensi pasar guna menjaga stabilisasi harga.

"Sebagai stabilisator harga pangan pokok khususnya beras, Perum Bulog terus lakukan intervensi pasar secara berkesinambungan dengan menggelontorkan beras sebanyak-banyaknya melalui Operasi Pasar," sebut Budi Waseso.

"Dengan ini, pangan pokok khususnya beras tetap tersedia dalam jumlah dan kualitas yang baik," lanjut dia.

Sejak Januari 2018, Bulog telah menggelontorkan OP CBP sebanyak 384.328 ton, dengan kisaran 2.500 ton per hari. Budi Waseso memproyeksikan kebutuhan untuk operasi pasar akan mengalami kenaikan tajam menjelang akhir tahun.

"Kami terus pantau perkembangan harga pangan pokok khususnya beras dari hari ke hari supaya intervensi pasar dapat segera kami lakukan dengan menggelontorkan stok CBP dan komoditi komersial yang kami miliki," pungkas Budi Waseso.

Dalam rilisnya, BPS menyatakan bahwa mengalami surplus beras 2,85 juta ton selama 2018. Hal ini sejalan dengan rata-rata serapan 3.000 ton per hari oleh Perum Bulog yang terus melakukan penyerapan terhadap beras petani lokal.

Dengan serapan yang terus menerus dilakukan, diperkirakan hingga akhir tahun ini stok Bulog mencapai 2,7-3 juta ton. Dengan demikian, pemerintah dan masyarakat tak perlu khawatir jika terjadi bencana alam dan gejolak harga.

Stok yang cukup besar ini menandakan bahwa Pemerintah tidak perlu melakukan impor beras. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:kompas.com
Kategori:Badminton, Olympic, Ekonomi, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww