Turun Terus, Harga Sawit dan Karet Siksa Petani, Dewan Minta Pemerintah Pusat Berikan Penjelasan

Turun Terus, Harga Sawit dan Karet Siksa Petani, Dewan Minta Pemerintah Pusat Berikan Penjelasan
Senin, 03 Desember 2018 17:11 WIB
Penulis: Nyimas Naima Azzahra
PEKANBARU - Anggota Komisi V DPRD Provinsi Riau, Husaimi Hamidi menyoroti terus menurunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dan karet beberapa bulan belakangan.

Legislator asal Rokan Hilir (Rohil) ini menilai, harga sawit yang terus menerus turun sangat menyiksa para petani sawit di Riau. Berdasarkan laporan masyarakat, saat ini harga sawit sudah menyentuh angka Rp650 per kg. Sedangkan karet di kisaran Rp6.000, bahkan ada yang Rp3.000.

"Sawit itu normalnya seribu, itu sudah pas-pasan untuk ongkos, pupuk dan upah panen. Sedangkan karet itu normalnya Rp10.000. Masyarakat sekarang sangat kesusahan, sudah kembang kempis mereka. Kalau sempat harga ini terus menurun, bisa berakibat fatal," ujarnya di Pekanbaru, Senin (3/12/2018).

Politisi PPP ini juga mengaku kerap didatangi masyarakat yang mengeluh dan mengadu dengan turunnya harga sawit dalam jangka waktu dua hingga tiga bulan ini.

"Yang membuat saya merinding dan kasihan, mereka minta uang karena sudah tidak ada beras di rumahnya," jelasnya.

Husaimi juga mengaku heran mengapa harga ekspor sawit dan karet tidak mengalami kenaikan seiring naiknya harga dolar Amerika Serikat beberapa waktu belakangan.

"Coba lihat saat krisis moneter dulu, dolar melejit, harga sawit dan karet juga tinggi. Saat ini kan tidak berbanding lurus, dolar Rp14.000 sekian tapi harga komoditi ekspor ini terus turun. Tentu ini dipertanyakan, apakah pemerintah tidak bisa hadir disini," terangnya.

Ditambahkannya, pemerintah harus memberi kejelasan dan solusi, sebab hasil perkebunan seperti sawit dan karet menjadi sumbert pendapatan terbesar mayoritas masyarakat Riau.

"Menteri harus turun ke Riau, biar tahu kondisi masyarakat sekarang, jangan sangkut pautkan tahun politik dengan turunnya harga ini," paparnya lagi.

Apabila pemerintah pusat tidak segera mengambil tindakan, dosen Ekonomi di Universitas Islam Riau (UIR) ini khawatir, kriminalitas di Riau akan meningkat karena itu merupakan dampak sosial dari kemiskinan.

"Apakah sawit dan karet ini tidak di ekspor lagi? Tapi kalau tidak di ekspor tentu semua akan diolah di dalam negeri, dan itu akan berakibat turunnya harga sabun dan lainnya," tuturnya.

Soal isu pelarangan penggunaan minyak sawit mentah di Eropa, Husaimi mengatakan, bahwa saat ini negara-negara di Eropa masih menerimanya. Bahkan, salah satu negara di Eropa Tengah dan Tenggara, Rumania pun bersedia.

"Saya kira hal itu tidak terlalu berpengaruh. Buktinya saat ini masih diproduksi, CPO dari kita," tandasnya. ***

wwwwww