Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
22 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
18 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
3
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
18 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
4
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
14 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
5
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
14 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
6
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
14 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  Badminton

Pasca Korban Tewas di Deiyai, Rusuh Papua Bukan Lagi soal GSB

Pasca Korban Tewas di Deiyai, Rusuh Papua Bukan Lagi soal GSB
Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari (tengah). (Foto: Twitter)
Kamis, 29 Agustus 2019 11:40 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari mengaku prihatin dan mengutuk tindakan gerakan separatis bersenjata (GSB) yang menunggangi aksi massa di Deiyai, Papua telah menelan korban nyawa. Rusuh Papua, bukan lagi soal Gerakan Separatis Bersenjata (GSB).

“Ini bukan lagi soal kelompok kriminal, ini menciderai kedaulatan NKRI, setiap jengkal tanah Republik ini harus aman dari setiap rongrongan kelompok macam ini. ," kata Kharis dalam keterangan tertulisnya, Kamis (29/08/2019).

Pemerintah, menurut Kharis, harus menjadikan krisis Papua ini sebagai prioritas yang harus segera ditangani, sebelum jatuh korban yang semakin banyak lagi.

"Bila kita gagal menangani krisis Papua bisa jadi akan membawa negara kita ke arah perpecahan dan disintegrasi yang merembet di mana-mana,” tegasnya.

Menurut politisi F-PKS ini, TNI, Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN), tentu sudah mempunyai data dan infomasi intelijen terkait kasus tersebut. Ia meyakini situasi dan kondisi di lapangan dapat dianalisis untuk diambil langkah-langkah dan tindakan yang diperlukan. Tentu dengan kerjasama dan koordinasi dengan semua pihak.

Abdul Kharis juga menyatakan bahwa keberingasan Gerakan Separatis ini juga harusnya membuka mata dunia agar proporsional melihat masalah di Papua.

"Jangan sampai kita menyia-nyiakan pengorbanan nyawa, darah, keringat dan air mata yang sejak berpuluh puluh tahun lamanya tumpah di sana, terutama pengorbanan para pahlawan yang berguguran merebut dan mempertahankan kedaulatan kita di Papua," katanya.

Diberitakan sebelumnya, kerusuhan terjadi di Deiyai, Papua pada Rabu (28/08/2019), sebagai buntut pengepungan terhadap asrama Mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu.

Insiden di Deiyai, itu telah menewaskan tiga orang. Dua orang tewas adalah warga sipil dan satu orang lainnya merupakan anggota TNI AD.

"Saat ini korban sudah dievakuasi ke RSUD Enarotali, dan situasi aman," tegas Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua, Irjen Pol. Rudolf Rodja.***

wwwwww