Perang Teluk Ke-3 Bisa Saja Pecah, Kapal Nuklir AS Disiagakan

Perang Teluk Ke-3 Bisa Saja Pecah, Kapal Nuklir AS Disiagakan
Foto: The Sun
Minggu, 05 Januari 2020 15:35 WIB
JAKARTA - Kapal selam bertenaga nuklir Angkatan Laut ROYAL yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk berada dalam posisi untuk menyerang Iran jika ketegangan memberi jalan bagi perang di Timur Tengah.

Operasi elit dari SAS dan SBS juga menuju ke Irak bersiap untuk misi penyelamatan, dilaporkan tadi malam.

Kematian komandan militer Iran, Qasem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS pada hari Kamis telah memicu kekhawatiran Perang Teluk ketiga.

Di ibukota Teheran kemarin, presiden Iran mengeluarkan peringatan mengerikan bahwa AS membuat "kesalahan besar" dan memperingatkan akan menghadapi konsekuensi untuk tahun-tahun mendatang.

Soleimani tewas setelah intelijen melaporkan bahwa pasukannya akan melancarkan serangan penculikan terhadap warga negara Amerika dan diplomat di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump juga mengklaim Soleimani telah merencanakan serangan berdarah di London.

Sementara dunia menahan napas untuk langkah Iran berikutnya, sumber-sumber pertahanan senior mengungkapkan bahwa sub-pemburu pembunuh kelas Astute siaga di berbagai sasaran Iran.

Orang dalam mengatakan: "Tidak akan ada serangan pertama, tetapi setiap tindakan pencegahan sedang dilakukan, tergantung pada bagaimana Iran bereaksi terhadap kematian Soleimani,".

“Jika segala sesuatunya terurai dengan cepat, Inggris akan selalu berdiri bahu-membahu dengan AS. Pemburu-pembunuh adalah kapal selam paling canggih di Angkatan Laut Kerajaan. Mereka adalah aset yang mematikan dan ada satu sumur dalam jangkauan Iran," kata sumber itu dalam lansiran The Sun, Minggu (5/12/2019).

Angkatan Laut menyimpan sub serangan di wilayah tersebut setiap saat. Para kru hanya perlu bermanuver ke "kantong tembak" dan melepaskan rudal. Rudal Tomahawk 20ft membawa hulu ledak ledak 1.000lb dengan kekuatan untuk menghancurkan sebuah bangunan. Ia memiliki jangkauan lebih dari 1.550 mil, bergerak dengan kecepatan lebih dari 550mph dan memiliki sistem panduan GPS yang memungkinkannya untuk berpindah target di tengah penerbangan.

Rudal jelajah serangan darat Tomahawk terakhir kali ditembakkan oleh Angkatan Laut pada 2011 terhadap fasilitas militer Gaddafi di Libya.

Dan mereka digunakan oleh Angkatan Laut di Irak pada tahun 2003 dan Afghanistan pada tahun 2001.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Sumber:The Sun
Kategori:DKI Jakarta, Politik, Peristiwa, GoNews Group

wwwwww