Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
7 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
3
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
8 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
4
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
Umum
10 jam yang lalu
Gibran Tak Penuhi Syarat Wapres Usai Putusan MA, Bola Panas Kini di Tangan Prabowo
5
‎Pulogebang Terima Apresiasi Rp100 Juta dari PAM JAYA Berkat Perluasan Layanan Air
Metropolitan
23 jam yang lalu
‎Pulogebang Terima Apresiasi Rp100 Juta dari PAM JAYA Berkat Perluasan Layanan Air
6
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Hukum
11 jam yang lalu
KPK Geledah PT Djarum Kudus, Dugaan Manipulasi Cukai Belasan Tahun Rugikan Negara Triliunan
Home  /  Berita  /  Kriminal

Legislator Minta KemenPUPR Tingkatkan Pembelian Karet Petani

Legislator Minta KemenPUPR Tingkatkan Pembelian Karet Petani
Foto: Dok. GoNews.co
Senin, 11 Mei 2020 13:17 WIB
JAKARTA - Kementerian PUPR telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 100 miliar untuk membeli 10 ribu ton karet langsung dari petani di sejumlah wilayah produsen karet sebagai bahan campuran aspal karet. Langkah ini, mendapat apresiasi dari Anggota Komisi V DPR RI, Syahrul Aidi Ma'azat.

Namun, kata Syahrul, pihaknya juga mendorong penyerapan karet lokal untuk sektor infrastruktur dan konstruksi yang lebih besar lagi, terutama bagi: (1) karet bantalan untuk perletakan jembatan dan jalan layang (elastomeric bearing pad), (2) karet bantalan untuk bangunan tahan gempa (seismic bearing), (3) karet untuk bantalan rel kereta api (rail pad), dan (4) karet untuk bantalan dermaga (dock fender).

Khusus untuk karet bantalan untuk perletakan jembatan, Syahrul menjelaskan, KemenPUPR memiliki anggaran tahun 2020 pemeliharaan rutin jembatan 496 km sebesar Rp110 milyar dalam Program Padat Karya Tunai.

Selama ini, papar Syahrul, kebutuhan perusahaan konstruksi selaku pelaksana proyek pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan terhadap karet bantalan untuk perletakan jembatan dan jalan layang sebagian besar masih dipenuhi secara impor, terutama dari China dan Malaysia. Produk karet bantalan impor ini menggunakan karet sintetik tipe kloroprena (CR) yang memiliki keunggulan berupa ketahanan terhadap ozon dan oksidasi termal yang sangat baik sehingga terbukti tahan lama.

Produk karet bantalan lokal komersial, umumnya terbuat dari jenis karet alam. Namun produsen yang sebagian besar berskala UMKM ini tidak mempertimbangkan susunan formulasi kompon karet yang tepat, hanya mengutamakan keuntungan secara ekonomis. Akibatnya banyak produk karet bantalan jembatan yang mengalami kegagalan mutu karena tidak memenuhi persyaratan standar sesuai SNI 3967:2013. Kegagalan tersebut utamanya pada parameter pampatan tetap, ketahanan ozon, dan ketahanan terhadap pengusangan.

"Namun, penelitian Puslit Karet Bogor tahun 2019 telah menemukan bahwa penggunaan karet alam dengan bahan pengisi arang hitam tipe N550, N774, dan N330 sebagai produk karet bantalan lokal memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan produk karet bantalan impor," kata Syahrul, Senin (11/5/2020).

Oleh karena itu, Fraksi PKS meminta KemenPUPR untuk menggunakan karet lokal sebagai karet bantalan jembatan yang dapat digunakan sebagai pemeliharaan rutin jembatan. "Hasil penelitian Puslit Karet Bogor di atas dapat meningkatkan kualitas produk karet bantalan lokal sehingga dapat dipergunakan sesuai standar SNI 3967:2013,".***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Kriminal, Nasional, Ekonomi
wwwwww