Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
13 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
11 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
Metropolitan
19 jam yang lalu
BMKG Prediksi Cuaca Jabodetabek Cerah Berawan Hari Ini
4
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
Internasional
12 jam yang lalu
Jet Pribadi Jatuh di Palm Beach, Kecelakaan Maut Tewaskan Sembilan Penumpang
5
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
Umum
11 jam yang lalu
Kapolri Jenderal Suyudi Ancam Pidana Anggota Polri dan BNN yang Isap Vape Narkotika
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
11 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  SEA Games

Iuran BPJS Kesehatan Naik, Pemerintah Menunjukkan 'Kelasnya'

Iuran BPJS Kesehatan Naik, Pemerintah Menunjukkan Kelasnya
Juru Bicara KLC, Nukila Evanty (baris ke dua, pertama kiri) saat diskusi dengan Ombudsman RI. (Foto: KLC)
Jum'at, 15 Mei 2020 18:47 WIB
JAKARTA - Koalisi Lawan Corona (KLC) menilai pemerintah sangat tidak sensitif dengan menaikkan iuran BPJS Kesehatan, sementara masyarakat dalam kondisi sulit akibat pandemi yang kapan berakhirnya penuh ketidakpastian.

"Andai rakyat punya keberanian lebih, rakyat pasti protes, mengapa tidak diambil dari anggaran lain?, ambil dari dana infrastruktur, jalan layang, jalan tol, dari iuran Prakerja yang nyaris tanpa guna atau dari anggaran pemindahan Ibukota Jakarta ke Kalimantan," kata Jurubicara KLC, Nukila Evanty kepada wartawan, Kamis (14/5/2020) kemarin.

"Buat kalangan yang masih bergaji besar, nominal segitu tidak masalah. Tapi sekarang banyak masyarakat yang bahkan penghasilannya itu Rp 0," kata dia.

Kenaikan BPJS Kesehatan, kata Nukila, menunjukkan 'kelas' pemerintah yang tidak sensitif terhadap penderitaan yang banyak dialami rakyat. Pemerintah pun kurang cakap dalam penanganan Corona atau Covid 19 ini.

"Pandemi Covid-19 ini telah menciptakan orang miskin baru. Yang miskin tambah miskin, yang menengah-atas juga banyak yang jadi miskin, harta benda pun digadai," kata dia.

Secara hukum, kata Nukila, pertimbangan Perpres 64/2020 tidak sesuai dengan Putusan MA No.7P/HUM/2020 yang membatalkan Pasal 34 Ayat 1 dan 2 Perpres 75/2019.

MA, lanjut Nukila, dalam pertimbangannya yang beraspek filosofis menegaskan bahwa pada hakikatnya kenaikan iuran BPJS dalam kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu merupakan aturan yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan tuntutan rasa keadilan masyarakat.

"Mestinya hukum harus berpihak pada keadilan itu. Pak Presiden Yang Terhormat, kebijakan Anda tak Populis!! Plus, tidak cukup menunjukkan "kecapakan" ketika aturan terus berubah hanya dalam hitungan bulan!" pungkasnya.

Nukila mengungkapkan, susah memang situasi kebijakan di negeri ini karena banyaknya masalah yang ada, "terlebih kalau kita bicara soal dampak pandemi dan penanggulangannya,".

"Soal kenaikan iuran BPJS ini, survey respon masyarakat masih berlangsung. Di luar itu, desk pengaduan kami menerima aduan setiap hari dari seantero negeri," Pungkas Nukila.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, SEA Games, Nasional, PON
wwwwww