Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
Politik
14 jam yang lalu
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
2
Sebut Santri Tahfidz Qur'an sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
Politik
19 jam yang lalu
Sebut Santri Tahfidz Quran sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
3
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
Politik
19 jam yang lalu
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
4
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
Peristiwa
18 jam yang lalu
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
5
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
Politik
19 jam yang lalu
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
6
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Politik
18 jam yang lalu
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Tak Lagi Takut Corona, Warga DKI: Sudahlah Jangan Buat Resah, Kami Bosan, Kami Ingin Kerja Tenang

Tak Lagi Takut Corona, Warga DKI: Sudahlah Jangan Buat Resah, Kami Bosan, Kami Ingin Kerja Tenang
Ilustrasi. (Net)
Senin, 29 Juni 2020 16:58 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pemberitaan di berbagai media baik online, cetak, maupun televisi mengenai wabah corona ternyata membuat sebagian masyarakat kian resah.

Pasalnya, pemberitaan jumlah pasien maupun yang meninggal positif Corona yang upodate hampir tiap jam perhari, bukan menambah wawasan bagi masyarakat. Tapi justeru semakin membuat warga cemas dan panik.

"Sudahlah, jangan takut-takuti kami lagi. Kami ingin kerja tenang untuk nafkah anak isteri," ujar Sony, Driver Taxi online kepada GoNews.co, Senin (29/6/2020) di Jakarta.

Ia juga mengaku bosan membaca maupun mendengar pemberitan soal wabah pandemi Covid-19 itu. "Bosan mas lama-lama, toh data yang disampiakan pemerintah tidak semuanya benar kok. Saya wakt nonton tv, di daerah saya disebut zona merah, faktanya di daerah saya itu gak ada lo yang positif, terus data itu dari mana asalnya?," tanyanya.

Hal yang sama juga disampaikan Arsul, warga Cinere Depok yang keseharianya berjualan bakso keliling. "Waspada kesehatan itu penting mas, pakai masker, cuci tangan dan lainya saya setuju. Tapi mbok jangan nakut-nakutin masyarakat kecil seperti saya," tandasnya.

Saat ditanya apakah percaya Covod-19 benar-benar ada atau sebaliknya hanya sebuah konsiprasi seperti isu di media sosial, keduanya mengaku tidak peduli.

"Soal konspirasi atau tidak, kami tidak mas. Yang pasti kasihlah kami informasi positif jangan ditakut-takuti," ujar Arsul.

Awalnya kata Arsul, dirinya dan beberapa tetangga sangat ketakutan. Namun seiring penerapan PSBB di daerah, Ia justeru mengaku tidak takut lagi. "Awalnya takut mas, kan britanya serem-serem. Tapi jujur sekarang saya pribadi tidak takut. Lebih takut anak isteri saya tak makan," tegasnya.

Ia juga menyesalkan tindakan penanganan Covid-19 oleh Pemerintah. Ia menilai, pemerintah terlalu membesar-besarkan kasus wabah ini. "Kalau kami rakyat kecil ini kan cuma bisa manut, suruh di rumah saja kami ikut, ibadah ke masjid dilarang kami ikuti, tapi giliran urusan perut kami, siapa yang peduli mas. Jadi penerapan PSBB, larangan mudik itu menurut saya cuma ketakutan pemerintah saja," urainya.

"Sekali-sekali dengarkan juga suara kami yang di bawah, jangan cuma suara menteri, pejabat yang di dengar. Jangan lagi kami diberi asupan berita-berita seram, tiap hari ada saja yang mati, ada saja yang positif, pusing dengarnya mas," pungkasnya.***


wwwwww