Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Garuda Indonesia Tegaskan Tak Tolerir Pelanggaran Aturan Keselamatan Penerbangan
Umum
22 jam yang lalu
Garuda Indonesia Tegaskan Tak Tolerir Pelanggaran Aturan Keselamatan Penerbangan
2
Kondisi Langka, Mahasiswi Cantik Ini Menopause pada Usia 6 Tahun
Kesehatan
21 jam yang lalu
Kondisi Langka, Mahasiswi Cantik Ini Menopause pada Usia 6 Tahun
3
Rasulullah Mengingatkan, Ini 3 Musuh Utama Umat Islam
Umum
22 jam yang lalu
Rasulullah Mengingatkan, Ini 3 Musuh Utama Umat Islam
4
Kemendagri Apresiasi Unjuk Rasa Otsus Papua oleh FMPI dan Dorong Pertemuan Lanjutan
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Kemendagri Apresiasi Unjuk Rasa Otsus Papua oleh FMPI dan Dorong Pertemuan Lanjutan
5
Mahasiswi S2 Tewas Tergantung di Rumah Pacar, Ternyata Tengah Hamil Muda
Peristiwa
21 jam yang lalu
Mahasiswi S2 Tewas Tergantung di Rumah Pacar, Ternyata Tengah Hamil Muda
6
Delapan Warga Lengayang Pesisir Selatan Terinfeksi Corona
Kesehatan
20 jam yang lalu
Delapan Warga Lengayang Pesisir Selatan Terinfeksi Corona
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter

Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
Minggu, 05 Juli 2020 10:40 WIB
JAKARTA - Kementerian Pertanian bakal memproduksi kalung antivirus corona mulai bulan depan. Kementan mengklaim kalung ini bisa membunuh virus corona.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kalung yang akan diproduksi merupakan racikan dari ramuan antivirus dengan menggunakan bahan baku dalam negeri, salah satunya pohon kayu putih. Adapun antivirus dengan bentuk kalung ini merupakan hasil riset dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

"Ini antivirus hasil Balitbangtan, eucalyptus, pohon kayu putih. Dari 700 jenis, satu yang bisa mematikan corona hasil lab kita. Dan hasil lab ini untuk antivirus. Dan kita yakin. Bulan depan ini sudah dicetak, diperbanyak," ujarnya di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (3/7).

Pernyataan Syahrul pun viral. Banyak orang meragukan kegunaan kalung ini. Informasi ini kemudian menjadi trending di Twitter dengan tagar #KalungAntiBego sejak kemarin hingga pagi ini.

Dalam banyak cuitan, warga net di Twitter menganggap kalung anticorona buatan Mentan tak ubahnya jimat seperti yang diutarakan akun @fileman2011, "Penemuan apa lagi ini saudara-saudara setanah air? Benar jadi kayak jimat".

"Bapak ini (Mentan) tau aja orang Indonesia lebih percaya jimat ketimbang obat," cuit akun @bayupangestu29.

Warganet juga membuat lelucon kalung penangkal virus corona yang dianggap mirip jimat dengan mengunggah foto botol minyak kayu putih dikalungkan dengan karet ke leher orang. 

"Bentar lagi WHO (organisasi kesehatan dunia) buat status ngakak lihat Indonesia memproduksi #KalungAntiBego," tulis akun @muh_ikhwan90.

Sementara akun @iqbalskk8 menulis komentar sindiran dengan menyebut bahwa menghalau virus pakai Smadav atau Avira yang gambarnya payung, bukannya pakai #KalungAntiBego. Bahkan sutradara kenamaan Indonesia, Joko Anwar, ikut berkomentar di akunnya, "Goodbye cruel world".

Kementan pun menjawab keraguan banyak pihak mengenai kalung ini. Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan, Fadjry Djufry, memastikan kalung antivirus itu telah melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan.

Dia menjelaskan, laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosafety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner.

Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitian sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.

Terkait banyaknya keraguan terhadap antivirus ini, Fadjry mengatakan hingga saat ini, banyak negara yang berlomba-lomba menemukan antivirus corona, begitu pula di Indonesia.

Pemerintah, kata dia, terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona yang masih mewabah di Indonesia.

"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas. Secara laboratorium secara ilmiah, kami bisa buktikan, paling tidak ini bagian dari upaya kita, minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya. Tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi," ujarnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:gelora.co
Kategori:DKI Jakarta, GoNews Group, Kesehatan, Pemerintahan, Peristiwa

wwwwww