Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
16 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
20 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
15 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
17 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
13 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Kriminal

Pemilu Sisakan Banyak Paradoks, Yanuar Dorong Model yang Lebih Tepat

Pemilu Sisakan Banyak Paradoks, Yanuar Dorong Model yang Lebih Tepat
Anggota Komisi II Fraksi PKB DPR RI, Yanuar Prihatin. (Gambar: tangkapan layar virtual)
Selasa, 07 Juli 2020 18:56 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi II DPR RI, Yanuar Prihatin mengatakan, "sistem pencoblosan manual ternyata memberikan efek terjadinya masuk angin yang terlalu banyak di lapangan,".

Hal itu dikemukakan Yanuar saat memaparkan paradoks kepemiluan di Indonesia yang sejatinya bertujuan untuk menghasilkan individu pemimpin/wakil rakyat yang berkualitas seraya menjaga kualitas demokrasi dimana suara rakyat betul-betul direpresentasikan, guna mencapai visi besar negara menciptakan kesejahteraan umum.

Di antara paradoks yang Yanuar kemukakan, adalah sistem pemungutan suara secara manual yang menyisakan peluang terjadi kecurangan yang Ia sebut dengan istilah 'masuk angin'.

"Misalnya situasi soal saat kita mencoblos sampai diketahui hasil akhirnya, itu ternyata butuh waktu juga. Hari ini saya nyoblos, ini yang nasional ya hari itu tahu hasil akhirnya, itu enggak, seminggu dua minggu bisa beberapa bulan (baru diketahui hasilnya, red). Ini ada berapa gradasi yang harus kita lewati, bayangkan ketegangan psikologis, masuk anginnya bisa terjadi banyak," tutur Yanuar dalam diskusi soal Arah Revisi UU Pemilu bersama wartawan parlemen, di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Hal tersebut adalah satu dari sekian paradoks lain yang dikemukakan Yanuar, selain terbuangnya suara pemilih lantaran sistem komvrrsi kursi dalam model penghitungan suara yang saat ini berlaku.

Karenanya, Politisi PKB itu memandang penting untuk ditemukan model ataupun desain pemungutan suara yang demokratis dan menjaga kualitas leadership orang yang terpilih sebagai pemimpin/wakil rakyat.

"Pilihannya apa? Ayo kita diskusikan. Seperti cara efektif kita memilih hari ini tapi beberapa saat kemudian kita bisa diketahui hasilnya," kata Yanuar.

Dalam dialektika yang berlangsung pada diskusi tersebut, mengemuka juga opsi diterapkannya pemilihan model digital yang lebih cepat dan efisien secara biaya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, Kriminal, Nasional, Metropolitan
wwwwww