Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Demo terkait Covid-19 di Jerman Memakan Korban
Peristiwa
16 jam yang lalu
Demo terkait Covid-19 di Jerman Memakan Korban
2
AS Borong 300 Juta Dosis Vaksin Covid-19
Internasional
15 jam yang lalu
AS Borong 300 Juta Dosis Vaksin Covid-19
3
Buntut dari Bertambahnya Jumlah Tenaga Medis RSUD AWS Positif Covid-19
Kesehatan
14 jam yang lalu
Buntut dari Bertambahnya Jumlah Tenaga Medis RSUD AWS Positif Covid-19
4
Aturan MA, Korupsi di Atas Rp100 Miliar bisa Dipidana Seumur Hidup
Hukum
15 jam yang lalu
Aturan MA, Korupsi di Atas Rp100 Miliar bisa Dipidana Seumur Hidup
5
Heboh Daging Kurban Bergerak Sendiri, Begini Penjelasan Direktur Halal Research Center UGM
GoNews Group
12 jam yang lalu
Heboh Daging Kurban Bergerak Sendiri, Begini Penjelasan Direktur Halal Research Center UGM
6
Bikin Video Prank Daging Kurban Isi Sampah, 2 Warga Palembang Diancam Hukuman 10 Tahun Penjara
Peristiwa
5 jam yang lalu
Bikin Video Prank Daging Kurban Isi Sampah, 2 Warga Palembang Diancam Hukuman 10 Tahun Penjara
Home  /  Berita  /  Umum

'Papuan Lives Matter' jadi Potret Rasisme di Indonesia, Negara Diminta Hadir

Papuan Lives Matter jadi Potret Rasisme di Indonesia, Negara Diminta Hadir
UN Human Rights and FAO Gender Specialist, Nukila Evanty. (Foto: Ist.)
Kamis, 16 Juli 2020 07:54 WIB
JAKARTA - UN Human Rights and FAO Gender Specialist, Nukila Evanty menyatakan, orang-orang Papua sudah lama mengalami pelanggaran hak asasi manusia, pemukulan, intimidasi, pemindahan paksa dari tanah dan hutan mereka, serta penahanan para aktivis yang melakukan demo secara damai.

"Ketika orang Papua tersebut pergi ke pulau-pulau lain di Indonesia, mereka menghadapi 'rasisme', diawasi, dan kasus terakhir penggerebekan asrama di Surabaya dimana orang Papua dikata-katai dengan 'nama binatang'" kata Nukila usai diskusi bertajuk 'Diskriminasi Berbasis Rasial antara Legalitas dan Realitas' yang digelar Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum UNDIP Semarang, Rabu (15/7/2020) kemarin.

Kondisi itu juga membuat lahirnya istilah 'Papuan Lives Matter'. Gerakan 'Black Lives Matters' yang menuntut keadilan atas kematian George Floyd di Amerika Serikat, pada awal Juni lalu menjadi pemicu.

Menurut Nukila, 'Papuan Lives Matter' adalah potret rasisme di Indoensia, dimana persekusi, berprasangka (Prejudice), dan 'privilage' masih menjadi manifestasi yang kasat mata. Tapi masyarakat tabu bicara soal rasisme.

"Kalau isu pelanggaran HAM di Papua diangkat, dianggap ada antek-antek asing dibelakang orang Papua tersebut. Pendapat demikian pun rasis ya, karena menggangap orang Papua tak bisa mengekspresikan diri dan tak mampu," kata Nukila.

Karenanya, kata Nukila, perlu tindakan hukum berbasis UU No 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dimana Indonesia sudah meratifikasi 'International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD), melalui UU No. 29 tahun 1999.

Negara, kata Nukila, juga harus memastikan ada pendidikan toleransi, keberagaman dan kebudayaan, agar Indonesia yang indah dengab keragaman suku dan budaya, tak dirusak dengan rasisme.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Papua Barat, Papua, DKI Jakarta, GoNews Group, Nasional, Umum

wwwwww