Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
12 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
2 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
Peringatah HSP ke-98, Menpora Erick Ingatkan Semangat Sumpah Pemuda Itu Harus Hidup
Kemenpora
3 jam yang lalu
Peringatah HSP ke-98, Menpora Erick Ingatkan Semangat Sumpah Pemuda Itu Harus Hidup
5
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
2 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
6
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
2 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Home  /  Berita  /  PON

'Papuan Lives Matter' jadi Potret Rasisme di Indonesia, Negara Diminta Hadir

Papuan Lives Matter jadi Potret Rasisme di Indonesia, Negara Diminta Hadir
UN Human Rights and FAO Gender Specialist, Nukila Evanty. (Foto: Ist.)
Kamis, 16 Juli 2020 07:54 WIB
JAKARTA - UN Human Rights and FAO Gender Specialist, Nukila Evanty menyatakan, orang-orang Papua sudah lama mengalami pelanggaran hak asasi manusia, pemukulan, intimidasi, pemindahan paksa dari tanah dan hutan mereka, serta penahanan para aktivis yang melakukan demo secara damai.

"Ketika orang Papua tersebut pergi ke pulau-pulau lain di Indonesia, mereka menghadapi 'rasisme', diawasi, dan kasus terakhir penggerebekan asrama di Surabaya dimana orang Papua dikata-katai dengan 'nama binatang'" kata Nukila usai diskusi bertajuk 'Diskriminasi Berbasis Rasial antara Legalitas dan Realitas' yang digelar Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum UNDIP Semarang, Rabu (15/7/2020) kemarin.

Kondisi itu juga membuat lahirnya istilah 'Papuan Lives Matter'. Gerakan 'Black Lives Matters' yang menuntut keadilan atas kematian George Floyd di Amerika Serikat, pada awal Juni lalu menjadi pemicu.

Menurut Nukila, 'Papuan Lives Matter' adalah potret rasisme di Indoensia, dimana persekusi, berprasangka (Prejudice), dan 'privilage' masih menjadi manifestasi yang kasat mata. Tapi masyarakat tabu bicara soal rasisme.

"Kalau isu pelanggaran HAM di Papua diangkat, dianggap ada antek-antek asing dibelakang orang Papua tersebut. Pendapat demikian pun rasis ya, karena menggangap orang Papua tak bisa mengekspresikan diri dan tak mampu," kata Nukila.

Karenanya, kata Nukila, perlu tindakan hukum berbasis UU No 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dimana Indonesia sudah meratifikasi 'International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD), melalui UU No. 29 tahun 1999.

Negara, kata Nukila, juga harus memastikan ada pendidikan toleransi, keberagaman dan kebudayaan, agar Indonesia yang indah dengab keragaman suku dan budaya, tak dirusak dengan rasisme.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Papua Barat, Papua, DKI Jakarta, Badminton, Nasional, PON
wwwwww