Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
Pemerintahan
15 jam yang lalu
Negara Harus Lindungi PMI ABK, Jangan Pas Ada Kasus Baru Kelihatan Sibuk
2
Kuatkan Hubungan Kerjasama Antar Negara saat Pandemi, Azis Syamsudin Temui Dubes Singapura
Politik
16 jam yang lalu
Kuatkan Hubungan Kerjasama Antar Negara saat Pandemi, Azis Syamsudin Temui Dubes Singapura
3
'Gelora Kemerdekaan 2020' dan Launching API GELORA di HUT RI ke-75
Politik
17 jam yang lalu
Gelora Kemerdekaan 2020 dan Launching API GELORA di HUT RI ke-75
4
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
Politik
15 jam yang lalu
Bangun Ribuan Titik Jaringan Wi-Fi, Gus Jazil: Langkah Konkret GBB Membantu Pendidikan Masyarakat di Masa Pandemi
5
DPP PAN Tegaskan Muswil PAN Riau Digelar Akhir Agustus 2020
Politik
16 jam yang lalu
DPP PAN Tegaskan Muswil PAN Riau Digelar Akhir Agustus 2020
6
Islam Kembali Dihina, Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tidak Terpancing
Peristiwa
16 jam yang lalu
Islam Kembali Dihina, Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tidak Terpancing
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Buntut Meninggal Dunianya AW, Nukila Ungkap Subsidi Tak Tepat Sasaran untuk RS

Buntut Meninggal Dunianya AW, Nukila Ungkap Subsidi Tak Tepat Sasaran untuk RS
AW (32), Meninggal dunia di atas mobil pikap dalam perjalanan ke RS setelah menjalani proses persalinan tak sempurna. (Foto: Ist. via Suara.com)
Minggu, 19 Juli 2020 14:04 WIB
JAKARTA - UN Human Rights Activist, Nukila Evanty mengungkapkan, kondisi layanan kesehatan yang buruk di beberapa daerah, memang masih jadi PR serius bagi Negara Republik Indonesia.

Nukila yang terlibat di banyak organisasi dan juga dikenal sebagai juru bicara Koalisi Lawan Corona (KLC) itu, mengomentari insiden wafatnya seorang Ibu dalam perjalanan menuju Rumah Sakit di Padang, Sumatera Barat.

Korban disebut berinisial AW (32). Mulanya, korban melahirkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Jorong Sikilang, Kec. Sungai Alur, Kab. Pasaman Barat, Sumatera Barat. Tapi plasenta bayi tak keluar, sehingga korban harus dirujuk ke RS di Nagari Sasak.

Perjalanan ke RS disebut tak bisa cepat, lantaran kondisi permukaan jalan yang tak mendukung. Dalam perjalanan menggunakan mobil pikap kala itu, korban AW, meninggal dunia.

Nukila mengatakan, kondisi yang dialamai AW adalah salah satu faktor AKI (Angka Kematian Ibu) dan bayi yang masih tinggi di Indonesia. "Saya juga pernah mengadakan penelitian khusus AKI di Borong NTT. Jalannya buruk-Infrastruktur jalan tidak memadai, belum lagi ketersediaan ambulan, dokter atau bidan nggak mau bekerja di lokasi yang jauh dan terpencil,".

"Banyak ibu yg mengandalkan bidan kampung, ketika bidan kampung dibatasi praktiknya, muncul kasus kasus seperti yang dialami AW di Padang. Telat berobat dan memeriksakan secara rutin kandungan," kata Nukila kepada wartawan, Minggu (19/7/2020).

Persoalan tak berhenti di situ dan jauhnya jarak ke rumah sakit. Kadang kata Nukila, di daerah yang rumah sakitnya juga tak ada, malah disubsidi oleh pusat dan diprioritaskan Alkes (alat kesehatan).

"Wong rumah sakitnya tak ada. Peran pemimpin daerah ini, sudah banyak temuan dan hasil riset," ungkap Nukila.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Sumatera Barat, DKI Jakarta, GoNews Group, Kesehatan, Nasional

wwwwww