Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
Sepakbola
16 jam yang lalu
Hutang Rp4,5 Miliar ke Indonesia Arena, FFI Harus Pertanggung Jawabkan APBN Rp20 Miliar
2
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
Metropolitan
20 jam yang lalu
Jelang Musim Hujan, Pemprov DKI Diminta Segera Benahi Drainase dan Pompa
3
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
Non Olympic
15 jam yang lalu
IPSI Harus Berbenah: Siapa Bertanggung Jawab Atas Keselamatan Atlet?
4
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
Kemenpora
18 jam yang lalu
IYS 2026, Ajang Membangun Fondasi dan Solusi Masa Depan Indonesia
5
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
Ekonomi
22 jam yang lalu
Kemenperin Catat Indeks Industri Makanan Capai Rekor Tertinggi pada Oktober 2026 Berkat Pesanan Ekspor
6
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Sepakbola
13 jam yang lalu
Demi Amankan Poin Hadapi Persija, Persita Lakukan Persiapan Matang
Home  /  Berita  /  Nasional

Alasan Indonesia Uji Klinis Vaksin Sinovac dan Peluang Kedaulatan Vaksin

Alasan Indonesia Uji Klinis Vaksin Sinovac dan Peluang Kedaulatan Vaksin
Ilustrasi: Ist./stockphoto
Minggu, 02 Agustus 2020 18:25 WIB
JAKARTA - Vaksin Sinovac diujiklinis di berbagai negara, termasuk Indonesia. Vaksin Covid-19 harus mendapat pengakuan dari berbagai negara.

Fakta itu menjadi bagian dari poin yang disampaikan Anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati usai gelaran diskusi bersama pakar kesehatan dan wartawan parlemen beberapa waktu lalu di Senayan, Jakarta.

Dalam diskusi yang belangsung Kamis (23/7/2020) lalu itu, Anis mengungkapkan, berdasarkan keterangan Kementerian Keuangan pada Maret 2020, Indonesia terlibat dalam pengembangan vaksin Covid-19 bersama negara anggota G-20, WHO dan Global alliance for vaccines and imunization. Dari kerjasama itu tercapai kesepakatan pembiayaan untuk vaksin yang mencapai 4 Miliar Dollar AS atau sekitar Rp64 triliun.

Ia menjelaskan, anggaran ini akan dimobilisasi seluruh negara di dunia terutama dari G-20. Tetapi kata Anis, "sampai saat ini belum diketahui berapa total dana yang digelontorkan Indonesia dalam kerjasama tersebut,".

Fakta bahwa saat ini Biofarma hanya terlibat dalam level kerjasama ujiklinis vaksin dari Sinovac, menurut Anies perlu didorong untuk lebih baik lagi. Biofarma dan pihak terkait di dalam negeri, diyakini Anis mampu untuk memproduksi vaksin sendiri. Dorongan ini penting, agar Indonesia punya vaksin yang tepat dan mencapai kedaulatan vaksin pada akhirnya.

"Makanya Biofarma harus mengembangkan sebagai perusahaan yang diberi tanggungjawab, kalau sekarang hanya sebatas kerjasama saja," kata Anis yang kala itu berulang kali menekankan pentingnya dukungan dana penelitian di dalam negeri guna memcapai kedaulatan vaksin.

Dorongan Anis, juga senada dengan apa yang disampaikan Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia (IAKMI), Dr. Hermawan Saputra. Usai gelaran diskusi, Hermawan menyatakan, Indonesia memiliki peneliti-peneliti yang hebat dengan kepakaran yang sebenarnya sudah cukup lengkap.

Bicara vaksin, kata Hermawan, "itu ada kaitannya dengan perdagangan vaksin global. Jadi bagaimana meng-endorse agar bio farma sebagai BUMN bidang vaksin ini betul-betul mampu tampil secara global,".

Terpisah, Kepala Lembaga Biologi Mokuler Eijkman, Prof. Amin Subandrio mengungkapkan, pihaknya diberi waktu 12 bulan dan dilanjutkan dengan uji klinik fase 1-2-3 selama sekitar 12 bulan.

"Dana yang dibutuhkan untuk pengembangan vaksin skala lab sekitar Rp 10 milyar," kata Prof. Amin, Jumat (24/7/2020).

Prof. Amin juga menanggapi terkait pentingnya pemurnian virus sebelum langkah pengembangan vaksin. Pada intinya, kata Prof. Amin, dalam setiap tahapan penelitian tentu harus dilakukan pemurnian sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.

"Dari Indonesia baru ada 15 WGS (whole genome virus) yang disubmit ke GISAID, 10 dari Lembaga Eijkman dan 5 dari UNAIR," kata Prof. Amin.

Dari 10 yang di-submit oleh Eijkman, 9 di antaranya masuk ke dalam kelompok (Clade) L dan 1 lainnya masuk ke dalam Clade O (Others).

Sebagai pengingat, vaksin covid-19 dari Sinovac, China tiba di Biofarma, Indonesia pada Minggu (19/7/2020) lalu. Sekitar 2.400 dosis vaksin dipersiapkan untuk diuji klinis. Saat ini, bulan Agustus, vaksin tersebut akan diujicobakan pada 1.620 subyek. ***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, SEA Games, Nasional, Metropolitan, Ekonomi
wwwwww