Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
17 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
12 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
3
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
23 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
16 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
13 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
6
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
16 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Home  /  Berita  /  Olympic

Chusnul: Aktivis Partai jangan Baca 'Doraemon', Kalau Baca Itu Pemimpin Cuma Bisa 'Ngana-nganu'

Chusnul: Aktivis Partai jangan Baca Doraemon, Kalau Baca Itu Pemimpin Cuma Bisa Ngana-nganu
Senin, 17 Agustus 2020 12:25 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU)Chusnul Mariyah meminta para aktivis di partai politik (Parpol) untuk tidak menggunakan cerita 'Doraemon' sebagai cara memahami berbagai persoalan bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, untuk memahami dan menyelesaikan persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan dengan 'kantong ajaib' saja, tapi aktivis partai, terutama perempuan harus benar-benar berkualiatas dan cerdas, sehingga bisa memahami ketika berbicara mengenai narasi kebangsaan.

Cerita fiksi dan animasi dari Jepang ini , populer dikalangan anak-anak di Indonesia , dikenal memiliki 'kantong ajaib' yang bisa menyelesaikan masalah.

Doraemon,  yang digambarkan seekor kucing ini akan mengeluarkan alat yang diminta Nobita Nobi, untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.  

"Anda pasti bukan pembaca yang baik, seorang aktivis partai yang dibaca jangan Doraemon. Kalau anda tidak bisa membaca (narasi, red), anda bukan pemimpin yang baik, you are not a leader," kata Chusnul dalam 'Orientasi Kemimpinan (OKE) API Gelora   dengan tema 'Perempuan di Tengah Digitalisasi Demokrasi' yang diselenggarakan Partai Gelora, Sabtu (15/8/2020).

Menurut Chusnul, aktivis perempuan di partai harus memliki kemampuan 'komunikasi membaca' persoalan yang dihadapi bangsa dan rakyatnya. Sehingga bukan hanya sekedar sebagai pelengkap atau pemanis kuota perempuan saja dalam politik.

"Ngerti persoalan rakyatmu aja nggak, apalagi ngerti persoalan perempuan, juga nggak. Bagaimana anda membangun narasi soal persoalan bangsa?, sementara tidak mempunyai kemampuan komunikasi membaca. Makanya ketika ditanya wartawan, jawabannya a,i,u,e,o, nganu," ujar Chusnul.

Staf pengajar FISIP UI ini menilai perempuan Indonesia harus sadar diri dalam meningkatkan kemampuannya dalam berpolitik. Ia menyadari, kesalahan ini tidak mutlak dari perempuan itu sendiri, melainkan dari proses rekruitmen di partai.

"Biasanya kalau perempuan cerdas dikatakan galak, sehingga tidak rekrut. Yang direkrut yang feminim tunduk pada kemauan pimpinan partai dan bandar, makanya yang diambil, istrinya, saudaranya, pacarnya dan orang-orang terdekat," ungkapnya.

Akibatnya, para perempuan berpendapat, politik itu kotor dan memilih tidak terlibat dalam aktivitas politik, meskipun kuota perempuan di parlemen sudah mencapai 21 persen saat ini.

"Perempuan tetap mengaggap politik kotor, tapi dia sendiri tidak mau ikut membersihkan. Inilah problem kita saat ini, nah Partai Gelora sebagai partai baru jangan seperti partai-partai yang sudah ada," tegas Chusnul.

Chusnul berharap para perempuan yang menjadi aktivis partai dan aktif dalam dunia politik, berani 'bertarung (fight)  dan tidak sekedar menjadi follower, tetapi harus berperan aktif dengan didukung kemampuan komunikasi membaca narasi persoalan bangsa.

"Jadi, perempuan itu harus percaya diri, perempuan masih dipandang sebelah mata, makanya jangan heran kalau partai politik banyak artisnya. Saya tanya kok seneng banget, rupanya kalau rapat ada artis, bapak-bapak senang. Mereka direkrut karena followernya banyak, tapi kalau dilihat masih kalah dengan followernya Puan Maharani," pungkas Chusnul.***

wwwwww