Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Suruh Tanam Singkong, Prabowo Ini Menhan Apa Mentan Sih?
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Jokowi Suruh Tanam Singkong, Prabowo Ini Menhan Apa Mentan Sih?
2
Waduh... Ketua Bidang Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Mundur
Kesehatan
21 jam yang lalu
Waduh... Ketua Bidang Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Mundur
3
Indonesia Masuki Resesi, PKS Minta Pemerintah Fokus Perhatikan Masyarakat dan Dunia Usaha
Peristiwa
21 jam yang lalu
Indonesia Masuki Resesi, PKS Minta Pemerintah Fokus Perhatikan Masyarakat dan Dunia Usaha
4
FSP Sinergi BUMN Pastikan Kawal Klasterisasi BUMN dan Ciptaker
Ekonomi
16 jam yang lalu
FSP Sinergi BUMN Pastikan Kawal Klasterisasi BUMN dan Ciptaker
5
Istri Meninggal, Ruslan Buton Ajukan Izin Hadiri Pemakaman
Peristiwa
21 jam yang lalu
Istri Meninggal, Ruslan Buton Ajukan Izin Hadiri Pemakaman
6
Gawat... Kata Kemenkeu, Indonesia Sudah Resesi
Ekonomi
19 jam yang lalu
Gawat... Kata Kemenkeu, Indonesia Sudah Resesi
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Jika PPP Ingin Bertahan di Pemilu 2024, Pengamat: Gatot Nurmantyo Cocok jadi Ketum

Jika PPP Ingin Bertahan di Pemilu 2024, Pengamat: Gatot Nurmantyo Cocok jadi Ketum
Kamis, 27 Agustus 2020 11:44 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Persaingan Partai di Pemilu 2024 dipastikan bakal lebih ketat. Terlebih lagi, muncul parpol-parpol baru yang siap bertarung untuk meraup suara rakyat.

Untuk itu, partai politik lama yang kurang beruntung saat pemilu 2019 lalu, diingatkan untuk segera berbenah jika tidak ingin tenggelam.

Salahsatunya adalah Partai Persatuan Pembangunan. Untuk mendongkrak kembali citra dan elektabilitas PPP, figur ketua umum menjadi salah satu kunci yang sangat penting. Terlebih, PPP sempat merosot perolehan suaranya akibat sang Ketua Umum Rommy tersandung kasus di KPK.

Demikian diungkapkan Analis politik yang juga Direktur Mahara Leadership, Iwel Sastra, Kamis (27/8/2020).

"Eksistensi partai politik dengan iklim politik seperti Indonesia masih ditentukan oleh figur ketua umum," katanya. 

"Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh partai seperti Megawati Soekarnoputri, Surya Paloh dan Prabowo Subianto tetap dipertahankan memimpin partai politik mereka," lanjut dia.

Menanggapi adanya pemberitaan dua tokoh nasional yaitu Gatot Nurmantyo dan Sandiaga Uno yang dianggap sangat potensial menjadi magnet publik, yang dapat mengantar PPP kembali bangkit sebagai parpol besar, Iwel Sastra berpendapat sah-sah saja. 

Bahkan menurutnya jika tidak segera menggandeng tokoh-tokoh tersebut, Ia khawatir PPP akan jadi kapal tua yang sebentar lagi akan karam.

"Gatot Nurmantyo dan Sandiaga Uno memang bisa menjadi alternatif pilihan untuk memimpin partai berlambang kabah ini," kata Iwel Sastra.

Namun menurutnya, dari dua nama ini yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk memimpin PPP adalah Gatot Nurmantyo. Alasannya, untuk kepentingan pilpres, Sandiaga pernah keluar dari Partai Gerindra. Tidak lama setelah pilpres berakhir, Sandiaga kembali masuk Gerindra.

"Nah, kalau Sandiaga menjadi ketua umum PPP, maka Sandiaga harus kembali keluar dari Gerindra untuk pindah ke PPP. Ini tentu sangat tidak baik untuk citra dan reputasi politik Sandiaga," ujar Iwel Sastra.

Adapaun Gatot Nurmantyo menjadi pilihan ideal dengan beberapa alasan. Pertama, mantan Panglima TNI itu saat ini tidak terikat dengan partai politik manapun, sehingga ini lebih memudahkan jalan Gatot untuk memimpin PPP. Kedua, Gatot dekat dengan berbagai kalangan umat Islam. Ini sudah menjadi modal besar dalam memimpin sebuah partai politik dengan basis massa Islam. Ketiga, Gatot sampai sekarang masih menjadi tokoh yang populer dan berpengaruh.

"Lepas dari analisis di atas tentu semua kembali kepada kader PPP, karena tokoh seperti Gatot Nurmantyo sepertinya tidak mungkin melamar menjadi ketua umum partai," tuturnya.

"Jadi kalau ada kader PPP yang merasa bahwa salah satu jalan untuk menyelamatkan partai dan kembali menaikan posisi PPP adalah dipimpin oleh ketua umum yang tepat, maka mereka harus segera mengusulkan hal tersebut dari bawah," pungkasnya.***


wwwwww