Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
18 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
18 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
11 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
4
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
19 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
5
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
9 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
6
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
19 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Home  /  Berita  /  Basket

Kata Abhiram soal Ketegangan China-India

Kata Abhiram soal Ketegangan China-India
Pengamat Politik Hubungan Internasional/mantan Vice President Pemuda ASEAN, Abhiram Singh Yadaf. (Foto: Ist.)
Minggu, 06 September 2020 20:49 WIB

JAKARTA - Pengamat Politik Hubungan Internasional, Abhiram Singh Yadaf menilai, konflik perbatasan India-China tidak terlepas dari dinamika geopolitik dan geostrategi International yang lebih luas.

"China dengan konsep Belt and Road Initiative (BRI) dan India dengan konsep inklusif Indo-Pacific bersama-sama dengan Amerika Serikat, Jepang, Austrlia dan ASEAN. Bahkan sekarang negara-negara Uni-Eropa juga mulai melirik Indo-Pasifik sebagai konsep yang strategis," kata Abhiram dalam siaran pers, Minggu (6/9/2020).

Baca Juga: PR bagi Aparat Keamanan dan Penyelenggara Pemilu menurut mantan 'Vice President' Pemuda Asean

Di konsep Indo-Pasifik ini, kata Abhiram, China seolah-olah menjadi antagonis. Meskipun, Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden China Xi Jingping juga menunjukkan kemesraan justru pada saat tensi perbatasan dimulai pada bulan Mei lalu.

India, jelas Abhiram, menjadi harapan dunia politik global untuk menjadi penyimbang (balancing power) antara persetujuan yang sesungguhnya, yakni perseteruan antara China dengan Amerika Serikat.

"Konsep Indo-Pasifik yang inklusif saat ini sedang diuji ombak. Kita menanti tidak hanya bagaimana tensi eskelasi ini bisa diturunkan, melainkan bagaimana tensi ini bisa di-defuse secara total," ujar Abhiram.

Sejauh ini, sepanjang 4 bulan ketegangan perbatasan berlangsung, memang belum nampak akan adanya perang pada skala besar (full scale war). Sehingga, kata Abhiram, muncul pertanyaan, "Apakah sifat agresif China di perbatasan India-China hanya sebagai sebuah latihan perang untuk menghadapi kemungkinan tensi sesungguhnya di Laut China Selatan?".

Sementara itu, lanjut Abhiram, Indonesia bersikap netral dalam isu China-India. Indonesia bahkan aktif meredakan ketegangan China-India sebagai wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif yang selama ini dianut.

Meskipun, "Indonesia tegas terhadap pelanggaran Norma-Norma International di Laut China Selatan,".***


Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Metropolitan, Basket, Badminton, DKI Jakarta
wwwwww