Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
16 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
17 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
3
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
Ekonomi
18 jam yang lalu
IHSG Sesi I Anjlok ke Level 5.142, Ratusan Saham Terkoreksi di Zona Merah
4
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
10 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
5
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
Metropolitan
18 jam yang lalu
Pramono Sebut Tak Ada Fasilitas Publik Rusak dalam Demo Mahasiswa di Jakarta
6
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Umum
18 jam yang lalu
Bawa Sajam ke Bundaran HI, 19 Massa Aksi Komite Sadar Diringkus Polda Metro Jaya
Home  /  Berita  /  Nasional

17 Kementerian Tangani Stunting, Menko PMK: Bukannya Selesai, Malah Remuk

17 Kementerian Tangani Stunting, Menko PMK: Bukannya Selesai, Malah Remuk
Menko PMK Muhadjir Effendy. (pikiranrakyat.com)
Selasa, 15 September 2020 17:33 WIB

JAKARTA - Banyaknya kementerian terlibat menangani stunting di Tanah Air, ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, kondisi tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, dalam Sarasehan Virtual 100 Ekonom, Selasa (15/9/2020).

''Stunting itu, itu yang urusi 17 Kementerian. Tumpang tindih. Over lapping, banyak tangan, bukan selesai, malah remuk, overload,'' ungkapnya dalam Sarasehan Virtual 100 Ekonom, Selasa (15/9/2020).

Muhadjir mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar kementerian yang menangani stunting harus mempertanggungjawabkan penyelesaian masalah tersebut.

Sebab, tegasanya, anggaran yang digunakan untuk penekanan stunting ini terbilang besar. ''Ada usulan ke Presiden, harus ada terobosan, siapa yang bertangung jawab, karena anggaran cukup besar,'' kata Muhadjir. 

Muhadjir sebelumnya menyebut, angka kekurangan gizi alias stunting di Indonesia hingga kini mencapai lebih dari 27 persen. Sementara, angka kelahiran di Indonesia per tahunnya mencapai 447 juta orang.

''Problem yang paling berat adalah stunting atau kerdil. Kerdil ini tidak hanya fisik tetapi juga otak yang lebih berbahaya. Sekarang ini angka kelahiran kita sekitar 447.800.000 per tahun, itu angka stuntingnya masih 27 persen lebih,'' ujarnya.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mencanangkan tahun 2024, angka stunting harus ditekan hingga 14 persen.

Menurut Muhadjir, target tersebut luar biasa berat. Namun, dia mencoba mencari strategi untuk mengatasi angka stunting.***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Metropolitan, Voli, Nasional
wwwwww