Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Anggarkan Rp7,9 Miliar untuk Pelatihan, Pemprov Jatim jadi Role Model bagi PMI
Peristiwa
20 jam yang lalu
Anggarkan Rp7,9 Miliar untuk Pelatihan, Pemprov Jatim jadi Role Model bagi PMI
2
Kisah Profesor Matematika yang Meyakini Kebenaran Alquran Setelah Baca Surah Az-Zariyat Ayat 52-53
Umum
18 jam yang lalu
Kisah Profesor Matematika yang Meyakini Kebenaran Alquran Setelah Baca Surah Az-Zariyat Ayat 52-53
3
Siswi SMP Ini Minta Dinikahkan karena Bosan Belajar Daring
Pendidikan
17 jam yang lalu
Siswi SMP Ini Minta Dinikahkan karena Bosan Belajar Daring
4
Syarief Hassan Sebut Deklarasi Papua Merdeka Tindakan Makar
MPR RI
14 jam yang lalu
Syarief Hassan Sebut Deklarasi Papua Merdeka Tindakan Makar
5
Kepincut Teqball, Mantan Pemain Timnas: Ada Kenikmatan dan Keindahan
Olahraga
8 jam yang lalu
Kepincut Teqball, Mantan Pemain Timnas: Ada Kenikmatan dan Keindahan
6
PT Telekomunikasi Indonesia Resmi Ganti Nama
Ekonomi
13 jam yang lalu
PT Telekomunikasi Indonesia Resmi Ganti Nama
Home  /  Berita  /  Peristiwa

Soal Film 'My Flag' Gus Hasyim: Kita Warga NU Saja Jijik Melihatnya

Soal Film My Flag Gus Hasyim: Kita Warga NU Saja Jijik Melihatnya
Tangkap layar opening Film My Flag. (Foto: Youtube.com)
Selasa, 27 Oktober 2020 16:26 WIB
JAKARTA - Tjetjep Muhammad Yasin, akrab dipanggil Gus Hasyim, alumni PP Tebuireng, Jombang ini mengaku prihatin menyaksikan film pendek “MY FLAG – MERAH PUTIH VS RADIKALISME’ Short Movie tayang di Kanal Youtube NU Channel, Kamis (22/10/2020).

"Ini film sadis. Pertama, menjustifikasi bahwa perempuan bercadar, laki-laki celana cingkrang itu anti Merah Putih. Kedua, pertikaian perempuan sampai merampas cadar lalu mencampakannya, ini menunjukkan betapa jahat pembuat film tersebut," jelasnya, Senin (26/10/2020).

Menurut lelaki yang berprofesi sebagai pengacara ini, sutradara film tidak mengerti Islam, tidak paham tentang Islam, tidak mengerti hukum cadar, tidak mengerti celana cingkrang.

"Saya heran, di situ ada Gus Muwafiq. Apa tidak tahu bahwa kakek-kakek kita, para penjuang kemerdekaan Republik Indonesia ini, (dulu) banyak yang bangga dengan celana cingkrang," tandasnya.

"Begitu juga soal cadar. Hukum memakai cadar, Itu sudah jelas. Ada yang menghukumi wajib, silakan. Ada menanggap sunnah, mongo. Ada yang berpendapat, muka wanita itu tidak bukan aurat, silakan. Semua memiliki hujjah tersendiri," lanjutnya.

Ia juga mempertanyakan, sejak kapan kita menghukumi pemakai cadar itu anti-Merah Putih. Menurutnya, ini menandakan dangkalnya pemahaman pembuat film terhadap Islam.

"Atau ini skenario ‘jual beli’ untuk mengadu domba umat Islam. Warga NU sendiri jijik melihat film seperti itu. Terbukti respon negatif atas film ini, jauh lebih besar ketimbang yang mendukung," pungkasnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Duta.co
Kategori:Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta
wwwwww