Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
14 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
15 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
11 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
9 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
9 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
7 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Home  /  Berita  /  Umum

Siswa SMP Gantung Diri Setelah Keluhkan Banyaknya Tugas dari Guru Selama PJJ

Siswa SMP Gantung Diri Setelah Keluhkan Banyaknya Tugas dari Guru Selama PJJ
Ilustrasi jenazah. (int)
Rabu, 28 Oktober 2020 07:20 WIB

TARAKAN - Seorang siswa SMP ditemukan tewas tergantung di rumahnya di RT 32, Kelurahan Sebengkok, Tarakan, Kalimantan Timur, Selasa (27/10) sore, sekitar 17.00 Wita.

Sebelum meninggal, remaja berusia 15 tahun itu sempat mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan guru selama belajar daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

''Berdasarkan keterangan beberapa saksi, korban ini orangnya pendiam, tapi pernah mengeluh karena banyak tugas dari sekolah,'' kata Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polresta TarakanIptu Muhammad Aldi saat dihubungi Antara di Tarakan, Selasa (27/10).

Jasad korban kemudian dibawa aparat Polresta Tarakan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan untuk dilakukan visum.

''Hasil visum tidak ditemukan tanda - tanda kekerasan. Posisi korban lidahnya tergigit dan mengeluarkan kotoran, dugaan awal kami memang merupakan murni gantung diri,'' kata Aldi.

Penyidik juga sudah mendatangi dan memeriksa beberapa saksi yang pertama kali menemukan korban di tempat kejadian perkara (TKP).

''Saksi yang diperiksa baik itu dari keluarga atau dari kerabat yang diminta tolong, termasuk orang tua korban,'' kata Aldi.

Warga mengaku prihatin dan meminta agar pihak sekolah dan orangtua menjadikan kasus ini sebagai pelajaran terkait sistem PJJ.

Kartini, salah seorang orangtua siswa di Tarakan, mengatakan, banyaknya tugas yang diberikan guru disertai ancaman tidak mendapat nilai bila tidak mengerjakan, bisa membuat siswa stres.

''Hal yang dikhawatirkan terjadi. Bagaimana anak tidak stres mendapat beban dan ancaman dari pengajar terkait nilai. Belum lagi masalah biaya pulsa dan jaringan internet banyak bermasalah,'' ujar Kartini.

Selain itu, kata Kartini, tidak semua orang tua punya kemampuan dan kesempatan mendampingi dan membantu anaknya belajar di rumah.

Ia berharap, PJJ segera dievaluasi, termasuk sikap para guru yang memberikan banyak tugas dan mengancam siswa.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Olympic, Umum
wwwwww