Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pindah Keyakinan, Ari Wibowo Mengaku Tidak Pernah Salat saat Muslim
Umum
23 jam yang lalu
Pindah Keyakinan, Ari Wibowo Mengaku Tidak Pernah Salat saat Muslim
2
Gagal jadi Anggota DPR, Budiman Sudjatmiko Kebagian jadi Komisaris PTPN V Riau
Peristiwa
14 jam yang lalu
Gagal jadi Anggota DPR, Budiman Sudjatmiko Kebagian jadi Komisaris PTPN V Riau
3
Lagi, Satu Prajurit Gugur Ditembak KKB di Intan Jaya
Peristiwa
23 jam yang lalu
Lagi, Satu Prajurit Gugur Ditembak KKB di Intan Jaya
4
Reklamasi Sebabkan Kerusakan Ekosistem Teluk Ambon, LaNyalla Desak Lakukan Rehabilitasi
Politik
23 jam yang lalu
Reklamasi Sebabkan Kerusakan Ekosistem Teluk Ambon, LaNyalla Desak Lakukan Rehabilitasi
5
Beredar Formulasi Nomor dan Kode Cek HP Disadap, Ini Imbauan Legislator Komisi Hukum DPR...
Umum
23 jam yang lalu
Beredar Formulasi Nomor dan Kode Cek HP Disadap, Ini Imbauan Legislator Komisi Hukum DPR...
6
Bejat, Eks Anggota DPRD 5 Periode dari PAN Ini Perkosa Anak Kandung
Politik
24 jam yang lalu
Bejat, Eks Anggota DPRD 5 Periode dari PAN Ini Perkosa Anak Kandung
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Jokowi Kesal, RI Masih Impor Kedelai dan Gula Jutaan Ton

Jokowi Kesal, RI Masih Impor Kedelai dan Gula Jutaan Ton
Ilustrasi Presiden Jokowi. (Foto: Istimewa)
Selasa, 12 Januari 2021 15:05 WIB
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti Indonesia yang masih mengimpor gula dan kedelai setiap tahun. Indonesia memang masih bergantung dengan pangan impor dalam jumlah besar setiap tahun.

"Kedelai hati-hati, gula hati-hati, ini yang masih jutaan-jutaan.Jutaan ton. Bawang putih, beras, meskipun ini sudah hampir 2 tahun kita nggak impor beras. Saya mau lihat betul di lapangannya apakah bisa bisa konsisten," kata Jokowi saat meresmikan pembukaan rapat kerja nasional pembangunan pertanian tahun 2021 di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Senin (11/1/2021).

Jokowi kembali menyinggung komoditas-komoditas tersebut. Ia pun meminta jajarannya agar persoalan impor komoditas-komoditas tersebut segera diselesaikan.

"Tetapi yang tadi saya sampaikan barang-barang ini harus diselesaikan. Urusan bawang putih, gula, jagung, kedelai dan komoditas yang lain, yang masih impor tolong ini menjadi catatan dan segera dicarikan desain yang baik agar kita bisa selesaikan," terangnya.

Pada kesempatan itu, Jokowi juga menyoroti impor kedelai yang terjadi dari dulu. Jokowi mengatakan, kedelai sebenarnya tumbuh baik di Indonesia.

Namun, kata dia, petani enggan menanam komoditas tersebut. Menurut Jokowi, itu terjadi karena harga kedelai petani kalah dengan kedelai impor.

Maka itu, ia ingin produksi dalam skala besar sehingga mampu menekan harga.

"Problem dari dulu sampai sekarang, kenapa pertama, kedelai yang di Indonesia dia tumbuh baik. Kenapa kita, petani kita, tidak mau tanam, karena harganya kalah dengan yang kedelai impor, kalau petani suruh jual harga impor ini harga pokok produksi nggak nutup .Sehingga jumlah yang besar agar harganya bisa melawan yang harga impor," papar.

Kondisi tersebut juga terjadi pada bawang putih. Padahal, kata Jokowi, bawang putih bisa tumbuh.

"Bawang putih, kenapa kita dulu produksi banyak dan sekarang nggak mau tanam bawang putih, karena kalah harga bawah putih impor," ujarnya.

Menurut Jokowi, jika harga tak kompetitif maka akan sulit bersaing. Ia pun meminta jajarannya mencari lahan seluas mungkin untuk menggenjot produksi.

"Kalau harga nggak kompetitif ya akan sulit kita bersaing sehingga sekali lagi, ini harus dibangun dalam sebuah lahan yang sangat luas. Lahan kita masih, cari lahan yang cocok untuk kedelai jangan hanya 1, 2, 10 ha. 100 ribu ha, 300 ribu ha, 500 ribu ha, 1 juta ha cari," ujarnya.

Benarkah impor kedelai sampai gula mencapai jutaan ton per tahun?

Data CEIC mengungkap impor kedelai oleh Indonesia memang jutaan ton per tahun, pada 2018 tercatat 2,59 juta ton. Pada 2019 naik menjadi 2,67 juta ton. Pada 2020 mencapai 1,84 juta ton.

Sedangkan impor gula mentah sepanjang Januari-November pada 2018 mencapai 5,18 juta ton. Lalu pada 2019 turun menjadi 4,11 juta ton, Pada 2020 mencapai 5,84 juta ton.

Impor yang besar ini karena produksi di dalam negeri belum mencukupi karena petani di dalam negeri malas memproduksinya akibat kalah bersaing dengan harga pangan impor yang lebih murah.

"Kenapa dulu kita produksi bawang putih, tapi petani nggak mau tanam lagi bawang putih? Karena harganya kalah dengan harga bawang putih impor. Di Wonosobo, di NTB bawang putih banyak kenapa nggak diperluas dalam jumlah besar?" jelasnya.

Jokowi meminta jajarannya untuk mencari cara dalam mengatasi hal ini. Pasalnya, pembangunan pertanian yang selama ini dilakukan belum berhasil melepaskan Indonesia dari kebutuhan impor.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:DETIK.COM DAN CNBCIndonesia
Kategori:Peristiwa, Ekonomi, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta
wwwwww