Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
Hukum
19 jam yang lalu
Ketua Umum DPP Pemuda LIRA Desak DPR Makzulkan Gibran Mengacu Putusan MK dan MA
2
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
Ekonomi
18 jam yang lalu
Kebutuhan Industri Melonjak, BPS Catat Nilai Impor Nasional Naik 19,67 Persen Sepanjang 2026
3
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
12 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
4
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
12 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
5
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
12 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
6
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Umum
17 jam yang lalu
Mutasi 7 Polisi Polrestabes Surabaya Disorot, Buntut Penangkapan 3 Legislator Partai Gerindra
Home  /  Berita  /  Umum

Anak Rawan Putus Sekolah saat Pandemi, Hetifah Minta Pemerintah Tingkatkan Kualitas Belajar dari Rumah

Anak Rawan Putus Sekolah saat Pandemi, Hetifah Minta Pemerintah Tingkatkan Kualitas Belajar dari Rumah
Ilustrasi anak putus sekolah. (foto: ist./tribun kaltim)
Jum'at, 19 Februari 2021 20:29 WIB
JAKARTA - Pembelajaran jarak jauh yang telah dilaksanakan oleh siswa-siswi di Indonesia akibat pandemi membawa beberapa permasalahan. Salah satunya adalah tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini.

Hal itu merupakan temuan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) berdasarkan survey yang telah dilakukan di 2 provinsi, yaitu Bengkulu dan NTB.

"Menurut laporan yang kami terima dari beberapa kepala sekolah, terdapat peserta didik yang putus sekolah karena menikah atau bekerja. Dari temuan KPAI, ada 119 peserta didik yang menikah, laki-laki maupun perempuan, yang usianya berkisar 15-18 tahun," ujar Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Restno Listyarti, Kamis (18/2/2021) kemarin.

Survey pembelajaran dari rumah yang dilaksanakan oleh Kemendikbud RI (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) juga menemukan bahwa bahwa 8,2% dari kepala satuan pendidikan menyatakan terdapat kasus siswa putus sekolah di satuan pendidikan mereka. Kasus tertinggi datang dari kelompok siswa yang bersekolah di SMK, dimana 16,5% kepala sekolah SMK melaporkan adanya siswa yang putus sekolah.

Sehubungan dengan hal tersebut, Hetifah Sjaifudian selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) meminta Kemenikbud meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan terkait permasalahan tersebut.

"Program-program terkait parenting harus ditingkatkan. Sebaiknya juga dibangun pusat-pusat komunitas untuk memantau keadaan anak di wilayah masing-masing," kata Hetifah tertulis, kepada GoNews.co, Jumat (19/2/2021).

Hetifah menekankan, peran guru sangat sentral dalam mencegah terjadinya putus sekolah dan pernikahan dini.

"Guru sebaiknya lebih peka akan keadaan setiap siswanya, bukan hanya sekadar nilai. Jika ada sesuatu yang mencurigakan harus segera diinvestigasi lebih lanjut," terangnya.

Hetifah yang merupakan wakil rakyat asal Kaltim ini juga meminta Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh.

"Dengan kualitas pembelajaran jarak jauh yang lebih baik, anak-anak dan orangtua tidak akan kehilangan semangat untuk pendidikan. Kerjasama dengan Kemenkominfo harus ditingkatkan dalam penyediaan akses internet merata. Pemetaan kebutuhan gawai juga harus segera dilaksanakan, agar bantuan bisa diberikan bagi mereka yang membutuhkan," pungkasnya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Umum, Nasional, Kriminal, Badminton, DKI Jakarta, Kalimantan Timur
wwwwww